Nyasar di Bandara???

19 Oktober 2011

NAMA : ADE NURMALA SARI

KELAS: S1 MTU D

NIM : 224109121

 

Apa yang terjadi apabila ada seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke bandara?? Mungkin 80% orang tersebut akan tersesat di bandara. Misalkan ketika Budi sampai di Bandara misalkan ia sudah tau harus datang keterminal 1C,,kemudian ketika disana,tidak terlihat jelas papan nama dimana iya harus check in. setelah antri panjang,eeh taunya ada papan board kecil bertuliskan itu untuk Garuda Indonesia,padahal ia menggunakan pesawat lion air,,,Yaah,,si Budi nyasar deh di Bandara.

Apa yang harus dilakukan oleh pihak bandara?? Seharusnya di setiap terminal harus ada papan board yang menjelas arah kemana saja penumpang harus pergi menuju pesawat yang mereka naiki. Apabila hal ini dapat berjalan dengan baik,maka penumpang tidak akan tersesat dan penumpang pun akan lebih cepat datang ke boarding area.

Kemudian juga lebih baik di setiap terminal menyediakan petugas yang ramah, sehingga apabila ada penumpang seperti contoh di atas,maka penumpang tersebut bisa menemui petugas dan bertanya tentang arah menuju pesawat mereka. Bagi petugas bandara sebaiknya ia bersikap ramah dan sopan. Menjelaskan tentang arah yang harus di tuju oleh para penumpang. Petugas pun harus tanggap kepada para penumpang yang sakit,jangan hanya disuruh duduk tapi antarlah penumpang tersebut ke klinik terdekat. Begitu pula dengan penumpang tua yang membawa barang yang banyak, bantulah penumpanh tersebut bawa barang bawaan mereka sampai mereka tiba di check in counter.

Nah,,mungkin jika sudah seperti ini bandara akan terlihat lebih tertib tidak ada penumpang yang seperti si Budi tersesat atau pun penumpang yang ribet dengan barang bawaannya.

Terimakasih.. Semoga bermanfaat..

 

Iklan

Adam Air Terkena bandded dan Merugikan Masyarakat,Biro Perjalanan wisata serta dunia Pariwisata diINdonesia

16 Oktober 2011

Nama: Wildani Abidzar

Nim: 224109267

Kelas: S1 Mtu d

 

Pemerintah Indonesia telah meng-bandded salah satu budget carrier yaitu Adam Air pada tanggal 19 Maret 2008 jam 00.00 oleh Direktur Jendral Perhubungan RI untuk seluruh jalur penerbangannya. Adam Air sejak January 2007 telah diketahui mengalami berbagai permasalahan tentang keamanan penerbangan, 102 penumpang hilang di perairan Sulawisi yang sampai kini tidak tahu rimbanya, kemudian pada beberapa minggu yang lalu pesawat tergelincir di pelabuhan udara di Batam, sekalipun tidak menimbulkan korban dari 175 penumbang saat itu mempergunakan Adam Air.

Setelah pemegang saham terbesar [ 50% ] mengundurkan diri dari perusahaan Adam Air, maskapaay ini telah menunjukan akan mengalami kebangkrutan dikarenakan adanya konflik internal sampai akhirnya pemerintah mencabut izin penerbangan dari 52 jalur yang dilakukan di tanah air.
Penghentian dan pencabutan izin terbang yang dilakukan oleh pemerintah patut kita hargai, namun dari pencabutan tersebut menimbulkan effect tidak sedikit penumpang, biro perjalanan dan citra transportasi udara serta pariwisata Indonesia telah dirugikan oleh maskapaay penerbangan ini, mengingat seluruh penumpang ketika penghentian yang dilakukan oleh pemerintah sejak jam 00.00 pada tanggal 19 Maret 2008 yang menggraunded seluruh pesawat Adam Air, pencabutan yang dilakukan oleh pemerintah menurut Dirjen Perhubungan Udara Budhi M Suyitno pencabutan spesifikasi operational seluruh Adam Air disebabkan sejumlah penyimpangan baik dari segi operasi sumber daya manusia maupun perawatan pesat yang berpotensi membahayakan penerbangan dan keselamatan penumpang. Dengan dicabutnya sertifikasi operasi Adam Air, Dephub memberikan waktu tiga bulan bagi manajemen Adam Air untuk melakukan perbaikan. Jika dalam waktu tersebut tidak terdapat melakukan perbaikan maka bukan tidak mungkin akan mencabut Air Operator’s Certification atau sertifikasi operasi penerbangan
Sudah sejak jauh hari pada tanggal 3 Januari 2007 komisi V DPRI telah meminta kepada Pemerintah untuk menghentikan penerbangan Adam Air, ternyata seruan tersebut membutuhkan waktu selama satu tahun lebih, yang mengakibatkan akhirnya hampir terjadi musibah di Batam dengan tergelincirnya penerbanganan Adam Air, sekalipun tidak menyebabkan jatuhnya korban.

Rekomendasi dari auditor independen juga menyampaikan hal yang sama kepada pemerintah ketika Adam Air hilang di periaran Sulawisi, tapi pemerintah masih belum mengambil punishment dan sampai kini bila kita simak itupun hanya pemberhentian sementara dan masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki management Adam Air, termasuk DPD ASITA pun telah mengingatkan pada tahun 2007 tentang system reservasi yang sangat merugikan bagi biro perjalan wisata serta tingkat sercuritas reservasi.

Dengan pencabutan izin terbang oleh pemerintah tidak sedikit konsumen yang dirugikan termasuk agen perjalanan. Sekalipun dari pihak maskapaay menjanjikan untuk mengembalikan tiket yang telah dibeli oleh penumpang. Rasanya penyataan management Adam Air tersebut tidak sesederhana itu karena penumpang tidak membutuhkan pengembalian ticket, melainkan membutuhkan penerbangan dan berangkat sampai sesuai jadwal dan tempat tujuan. Biro Perjalan Wisata bukan tempat pengembalian uang client / maskapaay penerbangan.

KEPERCAYAAN TERHADAP ADAM AIR

Bagaimana biro perjalanan dan masyarakat tidak percaya dengan Adam Air, awal beroperationalnya Adam Air memberikan angin segar dan menyatakan diri sebagai butiquette airline sekalipun penyebutan butiquette airline tidak tercermin dari kesehariannya beroperational, dan terakhir memasuki tahun 2008 Adam Air kembali mendapat penghargaan sebagai Top Brand Airline di Indonesia oleh salah satu institusi yang memberikan penghargaan atas dasar penelitian pasar. Top Brand Index yang diperoleh dari survey pengukuran tiga dimensi, yaitu demensi Mind Share, Market Share, dan Commitment Share. Dengan kejadian penghentian operasional bagi Adam Air untuk melakukan penerbangan gugur semua terhadap penghargaan yang pernah diberikan dan kini tinggal apakah maskapaay ini masih mempunyai commitment terhadap hutang-hutang yang ditimbulkan serta pelayanan terhadap kemampuan konsumen.

Bila penghargaan Top Brand dengan penilaian commitment share dengan kejadian penghentian penerbangan hendaknya pihak management dapat mempergunakan maskapaay penerbangan lain untuk mengangkut penumpang yang telah membeli tiket, management mempunyai kepedulian dan memperhatikan kepentinganan pelayanan serta kepuasan konsumen tentu dapat teratasi dan tidak akan menjadi masalah kalau perusahaan mempunyai komintmen tentu dapat mempergunakan penerbangan seperti garuda atau merpani serta maskapaay lainnya untuk menambah frekwnsi penerbangan ke jurusan tertentu karena menurut data yang ada tiket yang dikeluarkan adalah jurusan denpasar, yogyakarta, medan, padang, makasar dan menado serta batam. Atau bila pihak mengetahui tentang kepuasan konsumen dan memperhatikan tentang undang – undang konsumen tentu pihak maskapaay tidak saja cukup menyampaikan bahwa semua ticket akan di refund melainkan memberikan pelayanan seperti memberikan kepada mereka hotel bagi mereka yang tidak dapat diberangkatkan baik yang ada diluar kota maupun dari asalnya kota pemberangkatan. pada umumnya bila suatu penerbangan mengalami keterlambatan selama 3 jam maka para penumpang diberikan meal / makan dan bila sampai tidak terbang maka penumpang akan diberikan akomodasi / hotel bertaraf bitang lima sedangkan bila keterlambatan kedatangan begasi menumpang akan diberikan kompensasi sekian ratus dollar untuk dapat membeli keperluan seperti pakaian dan keperluan sehari-hari khususnya terhadap kebutuhan clocthes manner, untuk besok diusahakan diberangkatkan, jadi bukan hanya disampaikan ticketnya akan dapat di refund dan dikembalikan uangnya. alangkah enaknya berusaha penerbangan di Indonesia. Ketika penghentian penerbangan Adam Air hampir seluruh staff menghilang di Airport, seharusnya petugas harus lebih banyak untuk did kerahkan ke Airport guna memberikan bantuan terhadap penumpang yang sedang mengalami kebingungan tetapi kenyataan sebaliknya, dimana pelayanan terhadap kepuasan konsumen serta keramah tamahan sebagaimana yang dipesan dalam sapta pesona Indonesia, mana public relation Adam Air.

ANGGOTA ASITA DIRUGIKAN ADAM AIR MILIARAN RUPIAH

Indonesaia diperkirakan mempunyai sekitar 4350 biro berizin dibawah panji anggota ASITA [ Assosiation Indonesia Travel Agency ] dan diperkirakan sekitar 50% anggota ASITA adalah merupakan agent dari Adam Air, dengan adanya penghentian operational maskapaay ini diperkirakan dana yang berada di management Adam Air berkisar 15 milliar rupiah yang tertanam. Angka tersebut diperhitungkan dari deposit yang di simpan untuk sebagai agent penerbangan dari setiap travel agent, diposito tersebut terjadi karena setiap yang akan menjadi agent Adam Air mempunyai kewajiban menyimpan deposito dengan penghitungan satu tiket Rp. 750.000 sampai dengan Rp. 500.000 / oneway ticket.

Masalah yang dihadapi oleh biro perjalanan bukan saja bahwa pihak Adam Air akan mengembalikan terhadap deposito yang telah tersimpan di management Adam Air, melainkan :

Disamping penumpang yang dirugikan tidak dapat berangkat diantaranya adalah biro perjalanan dimana biro perjalan tidak saja memproses reservasi dan penjual ticket, tetapi biro perjalanan juga melakukan reservasi terhadap hotel dan kebutuhan perjalan khususnya bagi group yang akan melakukan wisata, para biro perjalanan telah membayar untuk hotel, dan seluruh biaya kepentingan ground handling seperti kendaraan dan restaurant, membayar paket yang harus dipikul karena client agent tersebut tidak dapat berangkat sampai tujuan pada saat liburan mempergunakan Adam Air.

Undang Undang Perlindungan Konsumen No 8 Tahun 1999 dimana menunjukan pada pasal 1 Ketentuan Umum bahwa tujuan dari Perlindungan Konsumen adalah meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk menlindungi diri dan mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghidarkan dari ekses negatif pemakain barang dan atau jasa, meningkatkan pemberayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut haknya sebagai konsumen

Memperhatikan pasal tersebut diatas, bahwa pihak Adam Air telah merugikan para konsumen dan para konsumen berhak untuk melakukan penuntutan dan pihak biro perjalanan perlu turut melakukan perlindungan dan kepentingan terhadap suatu pelayan dan jasa diberikan oleh sebuah maskapaay penerbangan, dari pasal 4 menunjukan hak konsumen atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa serta hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif dan hak untuk mendapatkan kempensasi, ganti rugi dan atau pengantian apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Memperhatikan dari pasal – pasal yang terdapat dialam Undang – Undang tentang Konsumen No. 8 tahun 1990 dimana jelas – jelas pihak Adam Air telah merugikan dan menterlantarkan pihak konsumen yang membeli dan atau mempergunakan produk jasa yang dihasilkan dari management Adam Air. Dengan memperhatikan hal tersebut diatas, bahwa Anggota ASITA berkewajiban melindungi client yang telah membeli produk yang salurkan melalui Biro Perjalanan Wisata / Travel Agent.

KENAPA TRAVEL AGENT BERKEWAJIBAN MELINDUNGI KONSUMENNYA

Memperhatikan terminologi dimana biro perjalanan tidak mengenal kata konsumen, kata konsumen di biro perjalanan adalah client, , penerbangan passenger, hotel guest dan konsumen tour operator adalah customer dengan terminology tersebut maka biro perjalanan wisata / travel agent berkewajiban untuk membela dan melindungi client yang telah melakukan transaksi di biro perjalan. Dengan kejadaian Adam Air maka pihak biro perjalan perlu turut memperhatikan dan melindungi kepentingan clientnya yang dirugikan dari akibat suatu kegiatan yang berhubungan dengan produk yang didistribusikan dari suatu biro perjalanan yang mengakibatkan clientnya mengalami kerugian dari pihak maskapaay dan atau dari supply tourism product. Karena biro perjalanan berlaku sebagai in direct provider terhadap traveler. Adapun kerugian yang ditimbulkan tidak saja disebabkan masalah tidak dapat berangkat melainkan masa liburan yang direncanakan tidak terlaksana, kerugian tersebut tidak dapat dinilai dengan uang, orang tua disamping harus mengurus masalah ticket, kemudian harus mengurus dan menenagkan anak-anaknya mereka terutama terhadap psychologi anak-anak yang telah berbinar-binar akan menikmati liburannya atau mengunjungi nenek dan saudaranya disana.

Pihak biro perjalanan tidak dapat tinggal diam termasuk ASITA sebagai induk organisasi dari para biro perjalan wisata di Indonesia yang sudah lama sering dirugikan oleh penerbangan dan menjadikan biro perjalan sebagai pekerja dan kuda tunggangan yang tidak diberi makan atau gaji, dan bahkan kadang-kadang harus menanggung kerugian, seperti kini keuangan yang ada di penerbangan maskapaay Adam Air diperkirakan berkisar Rp. 15 miliar rupiah yang tertanam dan tidak liquit.

DAMPAK PENGHENTIAN DAN KERUGIAN

Kerugian biro perjalanan tidak saja dananya tersimpan di Adam Air melainkan kepercayaan para pengguna jasa penerbangan yang membeli ticket di biro perjalan tidak dapat melakukan perjalanan dan atau berlibur yang telah dirancang serta dipesan hotel dan sara wisata lainnya yang telah dibayar oleh biro perjalan.

PELAJARAN UNTUK PEMERINTAH

Suatu pelajaran bagi pemerintah begitu mudah memberikan perizinan serta pemerintah yang pemaaf dan penuh toleran, bila dapat kita perbandingkan perizinan di Indonesia begitu mudah untuk berusaha di dunia usaha penerbangan, kalau kita lihat negara vietnam yang kini jumlah kunjungan wisatawannya telah melampaui vietnam sampai saat ini belum mempunyai national carrier / maskapaay penerbangan, malaysia hanya hanya menampang penuh dengan MAS dan Air Asia, China dengan jumlah manusia yang telah melebihi 1 milliar manusia hanya mempunyai China Airline dan dalam negerinya China Eastern, sedangkan di Indonesia mempunyai berapa maskapaay, tetapi ternyata semua maskapaay bermasalah termasuk maskapaay penerbangan Garuda dan Merpati yang nota bena dibawah BUMN

Kemudahan di Indonesia untuk berusaha cukup dengan tiga pesawat dan itupun sewa, dari kata kemudahan dapat disimak sudah berapa maskapaay penerbangan yang baru muncul kemudian tenggelam lagi, hal ini tidak dipelajari secara saksama oleh pemerintah dan terus mengeluarkan perizinan bagi pelamar,

Pemerintah sudah harus mempunyai pengalaman melihat sekian banyak izin perusahaan penerbangan yang dikeluarkan yang tadinya terbang kemudian menghentikan penerbangannya seperti : Jatayu air yang baru terbang tidak lama kemudian menutup diri, Star Air – Deraya [ penerbangan komersia ], – Simpati, Suelawa, Boraq, Transna, semuanya menghentikan operasional, ternasuk Awe Air yang kemudian perizinannya dialihkan atau di ke Air Asia. [ akhirnya perizinan penerbangan menjadi dagangan bagi oportunis usaha penerbangan ]. dan ini tentu sangat memprihatinkan. Jadi penghentian operational Adam Air perlu menjadi perhatian dan pelajaran bagi pemerintah untuk memberikan perizinan terhadap usaha penerbangan.

KONDISI PENERBANGAN INDONESIA

Pemerintah perlu memperhatikan dari kenakalan dari pengusaha penerbangan, sering dilakukan dari pihak maskapaay hanya memperhatikan cash flow mereka dengan strategi membayar vendor mereka seperti angkasa pura, pertamina dihutangi sampai berbulan-bulan, sedangkan dengan pihak biro perjalan diwajiban untuk melakukan deposit [ cash in advance ] dari cash flow tersebut pihak maskapaay mencharter pesawat / melakukan leasing, kondisi tersebut betul-betul tidak sehat bagi suatu usaha penerbangan. Kondisi tersebut tidak saja terjadi dengan maskapaay penerbangan swasta melainkan termasuk penerbangan yang dikelola oleh BUMN seperti Garuda dan Merpati [ Garuda rugi anak perusahaan Garuda kaya ] . Sebagai catatan bila para agent mau memperhatikan dan membaca dengan saksama dari perjanjiannya dengan pihak agent dari Maskapaay Merpati Nusanta dimana terdapat adendum yang berbunyi, bahwa agent diwajibkan melakukan penyetoran setiap hari dari penjualan, dengan demikian dimana uang diposito yang disetorkan oleh para biro perjalanan tetap utuh di maskapaay dan dapat dipergunakan untk kepentingan cash follow penerbangan tersebut.

Bila memperhatikan maskapaay penerbangan Garuda kini lebih sedih lagi, dimana Garuda seakan – akan sudah tidak berdaulat ticket dan keuang diatur oleh IATA dan City Bank – Courir Document oleh DHL jadi Garuda Indonesia sendiri sudah tidak ada kerjaan lagi dan tugasnya hanya sebagai pesuru untuk melakukan pemasaran sebagai simbol nasional, sedangkan management dan keuangan sudah berada ditangan orang asing, bila memperhatikan hal tersebut kenapa saham Garuda tidak dijual saja. Menghadapi tantangan global dan globalisasi kiranya saham Garuda sudah saatnya untuk dilepas, dan bila dilepas 50% saham kiranya masih banyak yang mau membelinya. kalau ingin dibandingkan dengan saham negara yang dilepas, seperti tambang merima defiden 5% sampai dengan 30% saja negara masih melepaskan. Kalau kita ingin jujur dari data pengalaman dan mau melakukan audit kapan maskapaay yang dikelelola oleh BUMN pernah memberikan defiden keuntung selain setiap saat perlu di infusing bila tidak di infusing maka burung besi BUMN tersebut kekurangan darah dan tidak dapat terbang.

Memperhatikan hal – hal yang telah diurai diatas, kiranya pihak DPR-RI yang kini sedang menggodok Undang – Undang Transportasi Udara perlu meletakan keberpihakan terhadap pemerintahan dan perlindungan terhadap konsumen dari maskapaay terhadap agent penjualan dan pengguna jasa maskapaay serta keselamatan dan kepuasan konsumen.

Obligasi moral perlu ditegakkan bagi penerbangan Indonesia perjalan wisata Indonesia perlu diselamatkan karena penebangan senantiasa disebut sebagai jempatan udara. Bagaimana kalau jembatannya kokoh / kuat tentu orang tidak berani mempergunakan, sedangakan Indonesia merupakan kepulauan sehingga jempatan udara diperlukan kontruksi yang tangguh dan berwibawa.

Dari tulisan ini dipandang perlu DPP ASITA segara mengambil langkah – langkah provokasi terhadap kepentingan anggota dan konsumen, guna menjaga existensi dan kedalautan organisasi sesuai yang terkandung dalam AD dan ART ASITA serta membela panji – panji pariwisata guna mengembalikan keparcayaan masyarakat terdahap usaha dunia biro perjalanan wisata baik terhadap konsumen dalam maupun luar negeri serta mendukung terhadap pemerintah yang sedang melakukan clean government


Bangkok, Thailand, telah dianugerahi Asosiasi Transportasi udara Internasional (IATA) Safety Audit Oprasi Ground (ISAGO)

5 Oktober 2011

Nama: Wildani Abidzar

NIM: 224109267

Kelas: S1 MTU-D

Bangkok Penerbangan Service (BFS), setelah berhasil menyelesaikan audit perusahaan dan Stasiun di Bangkok, Thailand, telah dianugerahi Asosiasi Transportasi udara Internasional (IATA) Safety Audit Oprasi Ground (ISAGO). ISAGO adalah program audit standar dan terstruktur Penyedia Ground (GSP) dan BFS adalah dasar pertama dan hanya penyedia layanan ke Thailand untuk memiliki kehormatan yang memenuhi syarat untuk pendaftaran ini. ISAGO, meniru keberhasilan IOSA (IATA Operational Safety Audit), menggunakan standar dasar yang diakui secara internasional dan praktek-praktek operasional yang direkomendasikan. Audit dilakukan oleh auditor sangat terlatih dan berpengalaman. ISAGO juga menyediakan GSP dengan model untuk risiko operasional dan manajemen keselamatan dalam organisasi mereka dan untuk pertama kalinya ada sistem pendaftaran dan berbagi hasil audit.

ISAGO menawarkan manfaat kepada maskapai penerbangan, ground handler, peraturan serta otoritas bandara. Di antara mereka, operasi darat lebih aman, lebih sedikit kecelakaan dan cedera, penghapusan audit berlebihan, mengurangi biaya, kerusakan kurang, proses audit yang seragam dan standar harmonis, pengawasan keamanan membaik, pelatihan auditor harmonis dan kualifikasi, standar kualitas baik, dan pemahaman yang disempurnakan yang tinggi daerah-daerah berisiko dalam operasi darat.


Sesampai di Natuna Tidak Menemukan Bagasi Wings Air

5 Oktober 2011

Nama              : Niki Dio Trisandika

Nim                 : 2241.09.134

Kelas              : MTU D S1

Tugas             : GH 2

 

Saya  membaca tentang maskapai WINGS AIR mengenai bagasi penumpang yang tidak di angkut dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya di maskapai tersebut kalau pesawat WINGS AIR over capacity, begini sedikit kisah keluhan para penyumpang dari maskapai WINGS AIR : Sabtu, 02 Oktober 2010 tujuan kami ke Kabupaten Natuna. Letaknya paling utara dan paling jauh dari kabupaten-kabupaten lain di Kepulauan Riau. Oleh karena letaknya yang cukup jauh dan dipisahkan oleh Laut Natuna maka untuk cepat sampai di Ranai Ibu Kota Natuna harus menggunakan pesawat terbang.

Hari itu kami menggunakan maskapai penerbangan Wings Air. Jadwal penerbangan dengan menggunakan Maskapai Wings Air dari Bandara Hang Nadim di Batam adalah jam 09.10 pagi dan dijadwalkan sampai di Bandara Ranai di Natuna pada pukul 10.35. Kami harus check in pagi sekitar jam 08.00 pagi di Bandara Hang Nadim.

Pagi itu kami sampai di Bandara Hang Nadim Batam. Langsung menuju check in counter tujuan Natuna. Proses yang masih manual yang tidak terkomputerisasi mengakibatkan proses check in begitu lama. Terlebih penumpang yang akan melakukan check in untuk tujuan Natuna semakin siang semakin banyak sehingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Saya pun duduk menunggui beberapa tas dari tim kami. Sementara hampir sekitar 30 menit antrian proses check in tidak bergerak.

Pada saat proses check in kami memasukkan 2 tas ransel besar. 1 travel bag dan 1 tripod ke bagasi pesawat dengan total masing-masing bagasi tak melebihi batas berat bagasi untuk setiap penumpang. Tas ransel milik saya hanya 9,7 kg sementara 2 tas lainnya tak melebihi berat tas ransel yang saya bawa. Proses check in pun selesai. Lalu kami menuju gate A5 di lantai 2 untuk menunggu pesawat. Cuaca saat itu cerah.

Sekitar 30 menit sebelum keberangkatan petugas informasi memberitahukan bahwa penerbangan satu-satunya ke Natuna dengan Wings Air ditunda selama 1 jam 20 menit. Sehingga, jadwal keberangkatan yang tadinya pukul 09.10 menjadi pukul 10.30. Selama menunggu pesawat yang ditunda keberangkatanya penumpang Wings Air tujuan Natuna diberikan sekotak snack yang berisi satu teh kotak dan satu buah wafer.

Sekitar pukul 10.30 perjalanan ke Natuna dengan pesawat berbaling-baling ini siap terbang. Pesawat ini hanya punya 2 baris kursi. Di sebelah kanan dan 2 baris di sebelah kiri. Sampai mendarat di Bandara Ranai yang tidak begitu besar sekitar pukul 12.00 siang.

Setelah proses mendarat sempurna penumpang dipersilakan keluar dari pesawat. Kemudian menuju bangunan di bandara yang tidak jauh dari landasan tempat pesawat mendarat untuk proses pengambilan bagasi. Saat kami keluar dari pesawat menuju tempat pengambilan bagasi tampak cukup banyak orang di sekitar bangunan itu.

Ada yang mau berangkat dengan pesawat yang sama. Ada yang menunggu keluarga yang telah mendarat. Dan, ada juga yang akan mengambil barang bawaannya.

Setelah menunggu agak lama truk pengangkut bagasi sampai di depan bangunan yang ternyata bangunan tersebut adalah kantor untuk check in dan klaim bagasi. Beberapa penumpang berebutan mengambil bagasi karena tidak menggunakan ban berjalan seperti yang ada di bandara-bandara besar.

Setelah penumpang yang mengambil bagasi agak berkurang kami pun mencari barang bawaan kami yang sebelumnya kami masukkan ke bagasi di Bandara Hang Nadim. Setelah mencari sana-sini dan bertanya ke petugas bandara dari 3 rangkaian truk pengangkut bagasi penumpang tak satu pun kami menemukan barang bawaan kami.

Petugas bandara yang kami tanya pun memberikan jawaban kurang lebih, “kami hanya mengambil barang dari pesawat dan hanya ini barang tersebut. Untuk pengurusan barang yang tidak ada silakan menghubungi perwakilan Wings Air di kantornya di ujung sana,” kata petugas itu sambil menunjuk lokasi bangunan lain kurang lebih sekitar 80 meter dari tempat penurunan bagasi.

Ternyata bukan hanya kami saja yang barang bawaannya tidak ada. Ada sekitar 19 penumpang lain yang barang bawaannya juga tak ada. Keluh kesah yang saya dengar seperti berikut. “Harusnya kasih tau dong sebelum keberangkatan kalau barang yang masuk bagasi nggak semuanya diangkut.” Ada juga yang bilang, “kok, nggak ada pemberitahuan sih tadi sebelum berangkat kalau pesawat over capacity.”

Saya juga termasuk yang agak bingung dengan Wings Air ini. Karena, dari 3 tas kami dan 1 tripod yang kami bawa tak satu pun diangkut Wings Air ke Ranai. Semua baju, charger handphone, dan laptop semua ada di tas tersebut.

Ternyata dari beberapa penumpang dan orang-orang setempat yang saya tanyai juga pernah mengalami hal sama dengan penerbangan yang sama. “Iya, tas saya juga pernah ditinggal di Batam beberapa waktu lalu saat libur lebaran,” ujar Bapak Darwis, seorang pengemudi taksi. Hal yang sama juga terjadi pada Ibu Satiyah, penduduk asli Ranai. “Tas saya udah ditinggal sejak hari Kamis. Mana isinya oleh-oleh untuk anak saya lagi. Mungkin udah remuk kali.”

Bapak Amar lebih parah. Walaupun baru mendarat tapi 6 tas dari 15 orang rombongannya ditinggal di Batam. Padahal, barang bawaan tersebut berisi barang dan bahan untuk acara pernikahan kerabatnya. Tapi, harus menunggu sampai 2 hari kemudian agar barangnya sampai di Ranai. Padahal, acara pernikahan akan dilaksakan esok hari.

Dari beberapa orang yang saya tanyai mengakui ternyata hanya penerbangan Wings Air saja yang sering meninggalkan barang bawaan penumpang yang masuk dalam bagasi. Penumpang pun sepertinya tak punya pilihan lain selain Wings Air karena penerbangan ini menjadi satu-satunya penerbangan langsung dari Batam setelah Riau Airlines tidak beroperasi. Protes dan keluhan dari penumpang yang dikecewakan ini juga sudah sering dilakukan. Tetapi, sepertinya pihak maskapai Wings Air tidak begitu mempedulikannya. Terbukti dari seringnya terjadi hal ini yang sangat mengecewakan dan merugikan penumpang.

Terlebih kami yang bukan tinggal di Ranai. Harus menunggu dua hari berikutnya untuk diantarkan barang bawaan kami dari Batam. Itu pun kalau tepat diantarkan pada hari yang dijanjikan karena ada juga barang bawaan yang harus diterbangkan 4 hari atau bahkan seminggu kemudian.

Bagi kami yang merupakan pendatang di Ranai dan hanya singgah selama 1 hari tentu ini sangat merugikan. Jadwal kami yang seharusnya sudah ke Anambas harus rela dibatalkan dan harus mengalihkan tujuan ke Pontianak untuk kembali ke Batam. Karena, jadwal kapal laut yang hanya satu minggu sekali.

Dari cerita di atas dapat disimpulakan memang dari pihak maskapai nya tidak begitu menghiraukan keluhan sebelumnya dan membiarkan ini semua terjadi pada setiap konsumen yang tidak mengetahui mengapa semmua ini di biarkan  oleh  pihak maskapai tanpa memberitahuan informasi kepada para penumpang . sangat amat mengecewakan pelayanan nya. Menurut saran saya semua yang bekerja di manajemen “wings air” di ganti dengan yang baru dan sistem manajamen yang berbobot dan dapat menarik pelanggan untukl membuktikan kualitas baru dari pesawat WINGS AIR ini . sehingga citra di mata pengguna jasa WINGS AIR tidak terus menerus menyimpan rasa kecewa terhadap maskapai ini . dengan motto “we will give you good service in pre flight,in flight, and in post flight for all customer !! “ hemmm not bad and make a big changes ! 🙂


Kinerja Pelayanan Ground Handling di Area Terminal Bandara

28 September 2011

Nama  : Novriyanti Riamasari

NIM    : 223108052

Kelas   : D3 MTU A

Kinerja Pelayanan Ground Handling di Area Terminal Bandara

Ground handling sangat berperan penting dalam memberikan penanganan dan pelayanan penumpang di area terminal bandara, mulai dari proses  penumpang tiba di bandara keberangkatan dan menjalani proses check-in sampai dengan penumpang berada di dalam pesawat dan penumpang tiba di bandara tujuan dan mengambil barang bawaan atau bagasi.

Ground handling berperan dalam meningkatkan mutu pelayanan sebagai pembuktian kinerja para petugas yang berada terminal bandara dan para petugas sebuah perusahaan maskapai penerbangan di mata para penumpang.

Keberhasilan pelayanan yang diberikan perusahaan ketika penumpang datang ke bandara sampai dengan kembali datang akan menjadi penilaian dan kenangan tersendiri bagi para penumpang yang pernah mendapat pelayanan yg mempermudah dan mempercepat proses keberangkatan para penumpang saat di bandara.

Setiap penumpang mengharapkan kelancaran dalam melakukan prosedur-prosedur yang telah menjadi ketetapan pada setiap perusahaan penerbangan sebelum keberangkatan.

Oleh sebab itu Petugas ground handling harus selalu siap dalam memberikan penanganan dan pelayanan kepada penumpang yang membutuhkan bantuan yang berkaitan dengan keberangkatannya. Dimana Setiap penumpang mengharapkan pelayanan yang dapat mempermudah dan mempercepat proses perjalanan yang akan dijalani para penumpang.

Kelancaran seluruh proses keberangkatan yang baik dan benar yang dirasakan bagi para penumpang yang akan naik pesawat sangatlah penting, baik bagi para penumpang itu sendiri maupun bagi perusahaan penerbangan sehingga dapat terciptanya kenyamanan dan kepuasan dari para penumpang yg diberikan oleh perusahaan penerbangan tersebut.

Pelayanan yang sesuai dengan harapan penumpang akan menunjukkan kinerja yang baik bagi suatu perusahaan penerbangan sehingga akan meningkatkan citra perusahaan di mata masyarakat yang tentunya akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan sumber daya manusia yang ahli di bidangnya yang dapat bekerjasama satu sama lain demi mencapai tujuan yang diharapkan.  Disamping itu perlu diadakan pembagian kerja yang baik antar unit ground handling serta pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan penanganan penumpang untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan betul-betul dapat menguasai pekerjaanya dan hal-hal lain yang terkait.


Ruangan Relaksasi dan Perawatan didalam Pesawat

18 Oktober 2013

Nama Kelompok :

Efra umara             224111089

Novri Hanggoro     224111090

Aditya Wisnu W      224112203

Putra Adi Pratama 224111264

Bab I   

Pendahuluan    

Didalam dunia penerbangan sangatlah dituntut akan keselamatan dan juga kenyamanan bagi para pelanggan maskapai penerbangan, baik saat pre-flight, in-flight maupun post flight. Bagi para penumpang yang menggunakan jasa penerbangan biasanya membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama.      

Untuk membuat penumpang semakin nyaman di dalam pesawat, banyak penumpang yang membutuhkan relaksasi, agar perjalanan terasa tidak melelahkan dan menjenuhkan, dikarenakan juga oleh mayoritas penumpang jasa angkutan udara adalah seorang pebisnis yang membutuhkan kenyamanan dan relaksasi.      

Khususnya bagi para wanita yang tidak sempat dengan waktu untuk pergi ketempat perawatan dan relaksasi, maka pihak air line menyediakan ruangan relaxasi dengan orang yang ahli dalam relaksasi dan perawatan.      

Maka dengan ini kelompok kami mengangkat judul tentang “Ruangan Relaksasi dan Perawatan didalam Pesawat”.


FASILITAS PENUNJANG DAN AKSESBILITAS BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNANETRA DI BANDAR UDARA SOEKARNO-HATTA (part-2)

28 September 2013

Kumpulan Karya Mahasiswa

nama kelompok:

amanda nurul alifah 224111097

anisa sholihah             224111281

ferdy tri whardana     224111259 (ketua kelompok)

trianto lintang             224111017

tugas kedua, mtu d ’11

Lihat pos aslinya 9 kata lagi


FASILITAS PENUNJANG DAN AKSESBILITAS BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNANETRA DI BANDAR UDARA SOEKARNO-HATTA

21 September 2013

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

       Bandar udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya. Dari definisi tersebut, dapat dilihat pada zaman sekarang ini di Indonesia, keberadaan bandar udara menjadi sangat berarti oleh pengguna jasa angkutan udara yang terus tumbuh dan berkembang.

       Namun hal yang perlu disadari disini adalah di Indonesia terjadi sedikit keterlambatan dalam merespon kelajuan pertumbuhan pengguna jasa angkutan udara dengan upaya pembangunan dan pengembangan sarana – prasarana bandar udara itu sendiri. Tentu pada akhirnya, hal ini berpengaruh pada tingkat pelayanan penumpang yang memakai jasa transportasi udara.

        Dari segi global, kita melihat para pengelola bandar udara di dunia berlomba – lomba memberikan pelayanan terbaik dalam mendukung kegiatan operasionalnya, segala aspek diperhatikan, mulai dari fasilitas keselamatan dan keamanan, fasilitas pokok, serta fasilitas penunjang, semua itu untuk meningkatkan kepuasan pengguna jasa angkutan udara – yang memiliki latar belakang yang bermacam – macam atau berbeda. Dari hal tersebut, kami coba menarik pembahasan lebih spesifik mengenai pengguna jasa angkutan udara dan bagaimana bentuk dari pelayanannya, yaitu kami bahas para pengguna jasa angkutan udara penyandang cacat (disabilitas) yang kami konsentrasikan pada penyandang tunanetra.

       Seperti yang bisa dicermati bahwa untuk wilayah Indonesia, bentuk pelayanan kepada para penyandang disabilitas di bandar udara perlu diperhatikan secara khusus, mereka perlu diberikan akses sendiri berupa fasilitas – fasilitas pembantu agar mereka dapat beraktivitas atau berkegiatan di dalam bandar udara secara fleksibel dan mandiri, serta memberikan kenyamanan pada seluruh pengguna jasa angkutan udara di bandar udara tanpa terkecuali, karena, menyikapi kenyataan yang ada, para penyandang disabilitas mengalami kesulitan untuk bergerak leluasa disebabkan ruang gerak mereka yang tidak memadai, tidak hanya di bandar udara saja, namun di tempat – tempat umum juga. Mencermati apa yang sudah dilakukan di bandar udara – bandar udara internasional dunia, kita perlu mencontoh. Persaingan untuk menjadi bandar udara kelas dunia dengan cita rasa humanis sepatutnya menjadi perbaikan dan penerapan pada bandar udara di Indonesia, dengan menjadikan Bandar Udara Soekarno-Hatta sebagai proyek percontohan pertama.

       Dari hal ini, kami mencoba untuk mengkaji letak – letak permasalahan yang ada secara kritis, dan mengurainya untuk dianalisa secara ilmiah dalam bentuk karya tulis untuk mencari serta menemukan solusi yang baik. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, karya tulis ilmiah ini berjudul “KONSEP PEMBUATAN FASILITAS PENUNJANG DAN AKSESBILITAS BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNANETRA DI BANDAR UDARA SOEKARNO-HATTA”.


Tingkat Kepuasan Konsumen pada saat Renovasi Bandar Udara Soekarno-Hatta

20 September 2013

“Tingkat Kepuasan Konsumen pada saat Pengembangan Bandar Udara Soekarno-Hatta”

Nama: Nursasia Anda Marisa  224111289

             Purwo Bagaskara          224111186

             M.Patriot Agnur JMP     224111177

             Yudhi Kevin                    224111202

             Ragil Sindy R                 224111244

 

1.1  Pendahuluan

Didalam Dunia Penerbangan tingkat kepuasan konsumen sangatlah penting. Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur mulai dari fasilitas, pelayanan, kenyamanan, keamanan dan kebersihan yang dapat dirasakan langsung oleh para pengguna jasa penerbangan ataupun para konsumen itu sendiri. Di Bandar Udara khususnya di Bandara Soekarno–Hatta penilaian terhadap kepuasan konsumen sangatlah minim dikarenakan masih banyak sekali kurangnya menikmati fasilitas, pelayanan, kenyamanan, keamanan dan kebersihan. Apalagi sedang dilaksanakannya pengembangan bandara yang di rencanakan baru akan selesai pada tahun 2014 nanti. Seperti yang kita ketahui pengembangan biasanya akan menimbulkan dampak yang mengganggu kenyamanan bagi para pengguna jasa penerbangan, dan itu pula yang bisa mengurangi tingkat kepuasan konsumen itu sendiri. Mulai dari polusi udara, polusi suara hingga mengganggu proses lalulintas penerbangan ( jadwal penerbangan ) yang di akibatkan oleh pengembangan bandara. Walaupun sudah direncanakan pengembangan ini dari jauh sebelumnya atau sudah tertulis didalam Master Plan Bandara Soekarno-Hatta namun faktanya di lapangan berbeda, dikarenakan kondisi dan faktor-faktor penyebab pelaksanaan pengembangan yang sangat berubah dari rencana awal. Sehingga timbul pertanyaan sebagai berikut:

–       Bagaimana hubungan antara tingkat kepuasan konsumen dengan pengembangan Bandara Soekarno-Hatta ?

–       Bagaimana tanggapan para pengguna jasa penerbangan terhadap pengembangan Bandara Soekarno-Hatta ?

–       Apa saja faktor penyebab terganggunya para pengguna jasa penerbangan akibat pengembangan Bandara Soekarno-Hatta ?

–       Bagaimana cara mengatasi gangguan bagi para pengguna jasa penerbangan terhadap pengembangan di Bandara tersebut ?

Maka dari ini sesuai dengan pertanyaan yang kami ajukan, kami membuat serta mengambil judul tugas ini adalah “ Tingkat Kepuasan Konsumen pada saat Pengembangan Bandar Udara Soekarno-Hatta “.


Perlukah Sekolah Pramugari ?

11 Juni 2013

Eko Probo D' Warpani

Ragam sekolah atau lembaga pendidikan non akademis semakin marak di lingkungan kita, salah satunya adalah sekolah Flight Attendant atau biasa dikenal dengan awak kabin.

Istilah Flight Attendant (FA), Awak Cabin, Stewardess bisa pria atau wanita namun istilah itu masih kalah populer dibandingkan dengan kata pramugari, oleh karenanya saya akan gunakan saja kata pramugari walau maksudnya bisa pria atau wanita.

774693_4107606535143_540693568_o

Kembali ke sekolah pramugari … sempat saya terheran-heran dan kagum melihat sekolah dengan jurusan khusus … Pramugari … bahkan beberapa teman di lingkungan pekerjaan saya beranggapan bahwa nantinya setelah lulus mereka akan langsung jadi pramugari … hmmmmm

Lingkungan kerja di airport adalah tujuan PKL yang sering disambangi siswa siswi dari berbagai macam jenis sekolah, salah satunya adalah sekolah pramugari, tentunya sebagai pengajar saya selalu ingin tahu lebih dalam mengenai materi yang mereka dapat di bangku sekolahnya.

Masa pendidikan yang mereka lalui beragam, ada yang 3 bulan, 4 bulan, bahkan sampai 8…

Lihat pos aslinya 813 kata lagi


Build up Export in Gapura Angkasa English Version

11 Januari 2013

Build up Export in Gapura Angkasa English Version

                                                                                              

Kelompok 1

Ketua : Hetro Handitro (243111003)

Anggota : Rara Resti Regata (243111014)

Zahir (243111019)

Nela Rizky Febriyanti (243111023)

Kelas : DIII-Groundhandling’11

Dosen : Eko Probo D’Warpani (Basic Cargo)

English Version Part 1

Preface About Build up

 

Build up an advanced process of receipt of goods, namely on the Acceptance counter in the delivery of goods, and is one of the most important processes in the handling of goods. Handling or build-up of activity in the form of packing goods, arrangement of items, check booked, writing no ULD / cart, writing master item numbers and writing the number of items put into the cart as well as the overall number of items. Build up to do if the checker do or have build up plan, which aims to perform calculations and arrangement of goods. Then the data obtained from the Build-up will be received by the Document processes for processing and reported to the Load Control.

 

Build up a very important role in the handling of cargo directly in cargo / goods. If an error occurs in the process of build-up, it will affect the safety of aircraft and the balance will even hinder the flight departure, not only is it an error in the build up can also cause possible damage to the goods. Thus, in the build-up must be done carefully, and the build-up in accordance with the applicable procedures.

 

Our goal is to conduct research to examine whether the existing build up the field in accordance with IATA standards applicable or not, and to know what problems are an obstacle in the process, the problems often encountered, advantages and disadvantages of what is the build-up process.

 

With the build up of our study on this, we can find out what activities during the build up in the warehouse gate Aerospace export directly. We also learned about the build up, process and roles, problems occurred related to the build-up as well as anything related thereto.

 

We can make this research based on the source of our experience during college tennis at the build up in storage Angakasa export gate for 3 days.

 

 

English Version Part 2

The Theoretical Frame Work (Eng Sub Part 2)

Based on result of our experience at export warehouse of Gapura Angkasa, we got data from result of our interview with the supervisor in this warehouse, he is Mr. Sigit Budi Prabowo. Our result is :

Process of entering the goods to build up in export warehouse started from making a build up plan by airlines, build up plan sent using email to document processing. Then, it was given to the checker, because the steps interpendent, one with another. When the checker get a build up plan, the goods entered to storage area after scaling process and x-ray in acceptance. The checkers work appropriate with a build up plan.

In storage area, the goods was classified by a kind of goods, and by the airwaybill, and then scaling and packaging the goods.

The theory or basic of theory which used by the employee is GOM (Ground Operational Manual). The explanation is there in chapter 6.2 pages 13, it tell about cargo handling.

The explanation is :

–          ULD Procedure (ULD Tags, Loading Device and Accessories Provision of ULD, Countour of ULD, Circulation of Loading Material and Damage of ULD);

–          Pallet Loading (Loading Principles for Pallet Build Up, Contour of Pallet Load, Securing of Pallet Load and Pallet Stocks;

–          Container Loading (Loading Principles for Containers, Securing within Load Container;

–          Cabin Load (Cabin Load of Bulk Cargo.

 

The other theory telling about build up, we can get it in IATA (AHM) book. We still searching the data in this book.

 

 

 

English version part 3

Human Resource Condition at Gapura Angkasa Warehouse

Human resource is human labor or people who work in the environment of an organization. Here we discuss about the manpower or human resources related to the build-up process such as:

1. Number of employees

Part warehouse eksprot GA, hiring employees using consistent grouping, particularly section documents the process and build up. In a group of seven employees such as: 3 checker,  1 docpross, 1 GL (Group Leader) / assistant supervisior, one person on staff supervisior PDE (electronic data interchange).

2. Recruitment

Every employee who works, most still as outsourced employees except office supervisor. Inside of build up employs some checker. The checker is mostly once a porter. Porter selected to be a checker, because the porters are experienced in handling the work he does with checker, the checker indirectly and porters almost doing the same thing so when the porters appointed checker, they do not feel strange to work.

3. Development

Training is given to the checker and porter. Training aims to look at the abilities they have, especially the porters who have the ability to become a checker. In addition, the employees are also always get a briefing before doing their job briefing will make at night and early morning. At night, the briefing given to do the job in the morning, and in the morning till noon no brifieng due process were to continue the process that has been done in the morning.

4. Problems

Most of the employees still lack an understanding of the ability to use a computer. Most of them could use a computer because it used. It’s become one of problem in handling and delivery of goods, because the computer is one of the most important aspects of a supporting element of the gradual proficiency level. Another thing, the problem depends on the supervisior in react. Examples of such delay and its absence affecting the handling. But if it does not affect the supervisor considers it is not a problem.

Sources of data on human resources, we get when we study the second time in the export warehouse at PT Gapura Angkasa

English version Part 4

The Problems in The GA’s Export Warehouse

In this paper, we will discuss about the problems  in the Gapura’s export warehouse  in the process build up section. The problem will have a big impact on the flight.
Based on the research we do for our practice in the field, we think there are three element which make the source of problems that occur in the process build up, affecting the flight process, there is :

  1. system
    The system is one of the most important factors that can affect the smoothness of the build up process. But the system can also be a factor that could hinder the process of build-up. The problems that fall into the category of the system that is, system down, power failure, faulty PC and others.

It makes all the work that should be done by a system such as the manufacture of booking plan, manifest, etc., must be done manually. With the work manually it will take time to process. So it will have an impact on the handling of the aircraft / flight process.

  1. Human Error
    Human here means the employees involved in the process of build-up, from the checker, porters, clerks document processing until supervisor. So, human error is a problem that originated or made ​​by the employees concerned.

Examples of such problems is the lack of communication between employees, causing misunderstandings that affect the handling of goods, and other issues such as lack of knowledge possessed by employees. Knowledge of both the practice and procedure. It can make the employees made ​​mistakes in the process.

  1. Equipment
    Equipment is a contributing factor in the build-up process. Provider of equipment was sourced from Space Gate, airlines concerned and agencies working together. Each equipment has its own functions and related to the timeliness and safety.

In the airlines side which less attention to the equipment (container / pallet) will be difficult for the workers to work the process of build-up. So the condition of the equipment will affect the productivity of the work performed by the employee.

Delivery process will be smoother if enough equipment and support, this will be related to the timeliness and safety in flight. The  equipment such as: ULD, Scales, Net, Strap, etc.. The equipment associated with each other, so if one of them gets damaged it will interfere with the existing build up.

 

 

English version part 5

Conclusion and Tips for Build Up export in Gapura Angkasa

Conclusion 

            Build Up constitutes one of primal process in cargo’s handle. Handle that is done as: packing is goods, goods settlement, goods checking, ULD’S number writing, master’s number writing and goods amount, and goods weighing.

build up’s process on export’s barn Space Arch employs many its employees with outsourcing’s state, but supervisor’s responsible position. Employees that was made as many job groups, where in one group consisting of 7 clerk are next at subdivide to correspond to its work type, which is: 3 person checker, 1 document processing, 1 person supervisor, 1 person GL (Leader’s group), and 1 person staff PDE.

 

On build up’s process there are some about problem. About problem aught which is:

 

– System (system down, electric dead, etc.)

 

– Human Error (miss communication, inexperienced, etc.)

 

– Equipment (damaged equipment, care, etc.)

 

 

Tips

 

Of about problem about problem which happens deep build up’s process of course it shall mark sense repair. Severally remedial that as:

 

1. System

On system, since thing as system down and electricity off can’t be predicted, therefore to prevent its abandon talks shop, staff shall can work work manually. So as that thing happening, staff was wonted with workmanship manually. In other words, workmanship manually wields system shall be counterbalanced. To handle electricity death, firm necessarily make ready electric reserve tool as preparation as while electricity dies.

 

2. Humman Error

According to us, to fix it with more the number of times training performing to its staffs good ala procedure and also praktik. Better employee shall hold book as guidance in working. That work that is done corresponds to aught regulation. Besides, training utilizes computer also indispensable staff because work a lot of utilize system. And firm has more think up its staff welfare that staff can work peacefully and results the better work.

 

3. Equipment

Since it is engaged Airlines, barns side eating have to be cooperative with every consideration with Airlines’s party. And for party Airlines may more haven’tice their equipment that is at barn. Since that equipment are utilized to handle cargo cargo that its handle utilizes their Airlines. Then is made ready too tool that utilize reserve electricity or nonlistrik even to replace off equipment because lamp death so not constrain handle process.

 


“HOW IMPORTANT TO BUILD THE LUXURIOUS COMMERCIAL AREA FOR THE AIRPORT?”

16 Desember 2012

Group    : 6

Chief         : Rizky Inayah                 224110220

Member  :

Sekar Wisyastuti P       224110046

Novia Cahya Syafitri   224110225

Nursery Alfaridi            224110046

 Kelas ZU’10

BACKGROUND

People’s mobility nowadays is developing rapidly so they need everything fast. This is the reason why do the people use the aircraft as their alternative transportation especially for the air transportation. Therefore, the airport provides so many facilities for the passengers’ amenities.

However, there are some situations which will cause them trapped into the airport. This matter exactly makes them feel uncomfortable being in this place. One of the reasons of those circumstances is delay or transit time that takes a long time for the passengers. So, the airport that takes the responsibility of every passengers provides the support facilities in order to comfort them while they are waiting for the time in the airport. It also gives the value added for the airport and of course an extra income.

These support facilities include the commercial area of the airport. Commercial area is one of the attractions in this place. This area is the most favourite place in the airport for the passengers because it has so many interesting spots such as restaurant, shopping mall, even there are game station, cinema, or casino in cetain airports as their commercial area.

Now, the airports are developing their commercial area in order to increase the amount of the visitors. Not only as a support facilities at the airport, this area can also levels up the airport’s prestige and also increasing the airport’s income.

The commercial area development itself needs a well plan along with a big enough cost. So its space, funds and layouts has to be adjusted well to make this place useful for the passengers’ needs.

That are the reasons why do we take this problems to our research, with the importance of the commercial area development at the airport as the main point and to know what are the effects for the airport to develop its commercial area luxuriously as our research purpose.

THEORY BASE

According to Valarie A. Zeithamldan Mary Jo Bitner (2003:3), the definition of service is “Include all economic activities whose output is not a physical product or construction, is generally consumed at the time it is produced, and provides added value in from (such as convenience, amusement, timeliness, comfort, or health) that are essentially intangible concerns of its frist purchaser”.

Airport is a place where the air transportation services are given. It also being a part of national and international air transportation service systems to be in favor of the passengers’ needs. So, it provides many facilities which has been included in Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : Skep/ 47/ III/ 2007 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Usaha Kegiatan Penunjang Bandar Udara Pasal 2 Ayat 1 dan 2 (b). It describes the supporting activities in the airport are:

–        Hotel reservation services in the airport

–        Shopping space lease services in the airport

–        Restaurant, bank, money changer space lease in the airport

There are also PP Nomor 70 Tahun 2001 which explains that the airport activity suppoting services are being done by a certain party.

In this global era, there are so many commercial areas in a certain national or international airport are built excessively. Besides to add more value, the commercial area development is also needed for passengers necessity fulfillness and for business sake.

This business concept of elaborating the services has a unique attraction of the product and service. It can be a standard for the other airport administrators and the entrepreneurs in making the commercial area as unique and luxurious as possible to appeal consumers. Moreover, this area is the most interesting place to visit in the airport. But is that a big deal to build such a prestige commercial area whereas we know that it will costs a big mount of money.

RESEARCH METHODOLOGY

Our research has a scope of research that focuses on the assessment of how important commercial area built luxuriously for the airport.

In this case, we choosed some of the research methodology. One of them is a method of data collection. The method of using primary data is by conducting a survey to respondents who often use commercial area at the airport. Primary data in this case is the data that is retrieved from the answers of the respondents are examined, namely in the form of opinions or data about the phenomenon of an object.

In addition, we also use the sample withdrawal method, which consists of a questionnaire and documentation. The questionnaire was distributed online via docs.google.com or indirect, as well as offline or in person. Whereas the documentation is a technique of collecting data in a way to see, read, observe and manipulate data to support this research.

Other method that we use is descriptive research method. This method aims to explain the influence of the commercial area development in an airport which can be used by the airport to gain an advantage. It is exercised by  formulating and interpreting the data so that can provide a clear description about the research that we do.

 

THE ANALYSIS RESULTS

In this study, based on the overall data obtained from 98 respondents, said that the commercial area at the airport is needed to be developed and its facilities also have to be added because some passengers have experienced a delay so they need a commercial area as one of the place that can be used for them to wait until they can go on board.

There also some respondents who claimed that the commercial area at the airport is uncomfortable and unsatisfying. That is one of the reasons why do this area is needed to be developed. So that, the commercial area could become the icon of an airport and also for the country where that airport is.

Some of these causes can give some impacts to an airport when they are developing their commercial area. One of them is to improve the passenger movement. The more atractive that the commercial area is, more passengers will come to that airport. For example Changi Airport, Singapore. People come to the airport just for shopping in its commercial area, so that beside they can increase the passenger movement, they can also earn much income either it is an aeronautical or non-aeronautical income.

And by developing commercial area at the airport, they can also improve the airport’s image. The facilities management at an airport should managed well, so it can provides and enhances a good airport image.

As we can seen from the economic sector, the development of this area can also be influential. This is because there will be many businesses that are established in that airport and it will increases the number of entrepreneurs. A large number of entrepreneurs can make the Government increasing the income taxes, so that it will indirectly makes a good impact for the Government as well.

Commercial area at the airport has to be developed and added some interesting facilities. However, the development of a luxury commercial area is not required, it will just burden more costs for the airport.

THE RESEARCH RESULT

This Chapter 4 explains about the research results that have been taken by the survey titled “How important to build the luxurious commercial area for the airport?”. The results of the research are done by using the method of data collection that is conducting a survey to respondents who often use commercial area at the airport. We also use the method of withdrawal of sample from the questionnaires and documentation.

From the data obtained, we formulate and interpret data using tables and graphs to show the results of this research. Based on the results of the survey that we did, the resulting data is as follows:

The Profile of Respondents

Age

Based on the results of the primary data processing, can be known that the age of the respondents is in the table as follows:

Table 4.1

The Criteria of Age

Frequency

Percentage

Teenager (13-17 year old)

8

8%

Adult (> 17 year old)

90

92%

TOTAL

98

97%

Diagram 4.1 Diagram of Age

Image

Nationality

Based on the data primary processing, it can be reported that those respondents nationality is as it seems at table below:

Table 4.2

Nationality

Frequency

Percentage

Indonesian

96

98%

Others Nationality

2

2%

TOTAL

96

100%

Diagram 4.2 Nationality

Image

Gender

Based on the data primary processing, the respondents’ gender is in the table as follows:

Table 4.3

Gender

Frequency

Percentage

Male

34

35%

Female

64

65%

TOTAL

98

100%

Diagram 4.3 Diagram of Respondents’ Gender

Image

Frequency

Based on the results of the primary data processing, the frequency visits of the respondents to the airport is as shown in the following table:

Table 4.4

Frequency

Quantity

Percentage

Once

7

7%

Seldom

68

69%

Frequently

23

23%

TOTAL

98

100%

Diagram 4.4 Diagram Based on the Frequency

Image

 

SURVEY DATA RESULTS

The results of the questionnaire answers which are submitted to the respondents show that the percentage of 17 questionnaires, both the questions and the statements, are the description of the data results of each question or statement.

First questionnaire was about the experience of the respondents who had visited the airport. It has 98%. The respondents said “Ever” which means most of the respondents have visited to the airport.

Questionnaire 2 is about the experience of respondents who had experienced a flight delay. 53% of respondents said “Never” which means the most of the respondents had never experienced flight delays.

Questionnaire 3 is about the experience of respondents when they spend time while waiting for delayed planes. 70% of respondents choosed “Playing with the gadget” which means the majority of respondents prefer playing gadgets to come to seeing the commercial area, because it is easy and do not spend a lot of money.

Image

Questionnaire 4 is about the opinions of respondents to assess commercial facilities in the area nowadays. 56% of respondents said “Ordinary” meaning that the majority of respondents have little attention to the commercial facilities area at this time because their main goal is to go to the airport only to board the aircraft.

Image

Questionnaire 5 is a statement about the respondents to assess that commercial area could be an icon (image) for the airport itself. 76% of respondents said “Agree” which means the majority of respondents assess that the commercial area could be an icon (image) airport.

Questionnaire 6 is about the comfort of the respondents when they are in the commercial area. 64% of respondents said “Ordinary” meaning that the majority of respondents do not really care when they are in the commercial area.

Questionnaire 7 is about the opinion of the respondents to assess the needs of the facilities and entertainment venues augment in the commercial area. 72% of respondents said “Need”, meaning that the majority of respondents felt that facilities and entertainment venues in the commercial area should be developed.

Image

Questionnaire 8 is the opinion of the respondents to assess what facilities are needed to be added in the commercial area nowadays. 30% of respondents said “No” meaning that the majority of respondents want that the facility in a commercial area can be added in order to add some facilities which are not exist in the area.

Image

Questionnaire 9 is a statement to the respondents to assess the entertainment venues in the commercial area at the airport. 60% of respondents said “Agree”. This means the majority of respondents felt the entertainment in the commercial area is a plus for the airport because it can increase the income for the airport.

Image

Questionnaire 10 is about the opinion of the respondents in developing commercial area that will increase the movement of passengers at the airport. 69% of respondents said “Yes” meaning that the majority of respondents considered that the development of a commercial area can increase the level of consumers’ satisfaction to make them continue to use the airport and to increase the movement of passengers at the airport.

Image

Questionnaire 11 is about the opinions of respondents’ satisfaction that use the existing facilities in the commercial area. 85% of respondents expressed “Ordinary”. It means the majority of respondents are not satisfied with the current situation of the facilities in commercial area.

EXECUTIVE SUMMARY

Based on the results of our research about “How important to build the luxurious commercial area for the airport?”, we can conclude that commercial area at the airport should be developed and its facilities also have to be added. However, the development of a luxurious commercial area is not really needed because the development needs the plans and the capital intensive.

One of the methods that we use in this research is the withdrawal method. It takes the sample of the questionnaire which will states the results of the survey data that we did. It states that  the most of the respondents want this area has an adequate facilities and makes it convenient for its users. They do not really want a luxurious commercial area.

This is because for some passengers who have ever experienced delays, this area is urgently needed as one of the places that they can used to wait at the airport. It also can earns more income besides the flight activity income. In addition, many respondents said that commercial area facilities in the airport are unattractive and less convenience. The satisfaction in that area is also one of the causes of an airport needs to develop its commercial area. Therefore, the area at the airport should be developed in such a way, but the development does not need to be too luxurious, because it will add greater costs for the airport.

RECOMMENDATION

Most of the consumers want the commercial area facilities in the airport continue to be developed, but the consumers do not assume the development is too luxuriously built. Based on these conclusions, there are some suggestions that can be useful for every commercial area at the airport as well as below:

  1. As we can see from the results of research, it is recommended that the management at every airports increasing the innovation in terms of doing improvements and provide facilities that focused on consumer convenience.
  2. It is also recommended that the management of the airport and the entrepreneurs who have a business in the commercial area should improve their business and technology management so that it can grows the high competitiveness and high level of the consumers convenience towards the commercial area facilities. There is no relationship between luxurious facilities with consumer convenience issues if both of parties carry out their duties well and still consider the optimization of the utility facilities in the commercial itself. In this way the commercial area facilities will be able to develop according to the needs of the community.
  3. It is also recommended that the management of airport manager especially for commercial area to make some cost savings in the use of financial resources during the development of commercial area. If the construction and development of commercial areas are luxury but forgetting the main purpose of the airport, it will be only waste the cost to the entrepreneur so it will burdens them because of the high cost of maintenance and repair of the facilities.
  4. It is also recommended that the management of the airport managers and the entrepreneurs should stop competition on the airport facilities and more focus on the maintenance and repair which aims to make the customers pleasant.

%d blogger menyukai ini: