ASEAN Open Sky, Ancaman atau Peluang?


Nama : Aisha Humaira

NIM : 224109143

Kelas : ZU09

Liberalisasi penerbangan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh dunia penerbangan Indonesia. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya kesepakatan liberalisasi penerbangan oleh Menteri Transportasi ASEAN di Manila tanggal 6 November 2008.

Pada dasarnya, kebijakan Open Sky adalah menggantikan kerja sama bilateral (Bilateral Air Service Agreement) menjadi bentuk kerja sama multilateral berupa Multilateral Air Service Agreement. Inti dari kebijakan Open Sky  atau liberalisasi penerbangan itu sendiri adalah meniadakan hambatan/restriksi : Route, Capacity, Frequency, Type of Aircraft,  khususnya dalam pemanfaatan hak angkut (traffic rights) ke 3 dan 4  (3rd & 4th Freedom Rights) bagi penumpang maupun kargo, guna memberikan akses yang seluas-luasnya (market access) kepada setiap airlines didalam satu wilayah perjanjian multilateral, misal nya di wilayah ASEAN bagi setiap airlines anggota ASEAN.

Liberalisasi penerbangan saat ini lebih menguntungkan negara-negara di kawasan ASEAN yang sudah lebih dulu mempersiapkan sarana, prasarana, capital dan teknologi seperti Singapore, Malaysia, Thailand, dll.  Apabila Indonesia belum mampu mempersiapkan diri setara dengan negara-negara lain di ASEAN, maka pada tahun 2015 ASEAN Single Aviation Market, Indonesia hanya akan menjadi penonton dengan negara lain yang menjadi “tuan rumah”. Dapat dikatakan juga bahwa airlines nasional akan  kalah bersaing karena level playing field nya tidak equal serta traffic market nasional akan banyak di nikmati oleh pihak asing. Hal seperti ini tentu saja akan merugikan dunia aviasi Indonesia.

Namun selain mempersiapkan diri akan ancaman ASEAN Open Sky, Indonesia hendaklah melihat kepada peluang-peluang yang dapat terjadi dari kebijakan tersebut. Dengan adanya liberalisasi penerbangan ASEAN, maka baik airlines maupun bandara nasional terpacu untuk mengembangkan air services yang lebih baik. Tentunya dengan air services yang lebih baik, akan terjadi pertumbuhan traffic. Pergerakan-pergerakan traffic seperti ini akan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Apabila sudah bersinggungan dengan pertumbuhan ekonomi, pasti tidak akan lepas dari urusan pekerjaan. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional, maka akan meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan. Liberalisasi itu sendiri akan memberikan peluang lain yaitu fleksibilitas operasi airlines. Dengan fleksibelitas operasi seperti ini airlines dapat mendesain jaringannya untuk memaksimalkan efisiensi.

Sekali lagi, ASEAN Open Sky hanya dinikmati secara penuh oleh negara yang industri aviasi telah siap berperan dan melaksanakannya.  Bagi negara yang belum siap atau belum sepenuhnya siap, seperti Indonesia, Open Sky adalah masalah yang dilematis.  Oleh karena itu, disamping kesiapan yang dilakukan pihak airline nasional, kebijakan pemerintah yang mendukung industri aviasi penerbangan nasional sangat dibutukan untuk mendorong airline nasional menjadi lebih baik dan siap untuk menghadapi ASEAN Open Sky.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: