Porter Bandara, Oh Porter Bandara…


NAMA           : DEA RIVAI PUTRA

NIM                : 2241 09 324

KELAS            : ZU09

 

Beberapa waktu lalu saya mengantar tante saya ke Bandara Soekarno Hatta, karena tante saya akan pulang ke negri kincir, Belanda. Cukup banyak koper yang dibawa tante saya, 2 koper besar, 2 koper sedang, dan 1 tas kecil. Turun dari mobil, kami langsung mencoba menurunkan koper-koper tersebut. Karena mungkin melihat kami kesusahan, ada seorang porter yang mencoba membantu.

Saya jelaskan dulu, porter adalah seorang kuli angkut, atau pelayan jasa yang bertugas membantu customer biasanya bertugas di bagasi. Dalam hal ini, tentu saja passenger.

Menurut saya tentu tidak perlu bantuan porter, karena sayapun masih bisa sendiri. Tapi tante saya bilang biar saja, sudah menjadi tugas seorang porter untuk membantu passenger. Akhirnya kami memakai jasa porter asli bandara Soekarno Hatta tersebut, dengan nomer 311 tercantum di seragamnya.

Sesampainya didalam, tante saya sudah mau memasuki Check In Counter, kamipun segera memberikan tip (upah jasa) ke porter 311 itu, karena setahu saya, porter dilarang masuk area ini. Area ini dinamakan Steril Area.

Steril Area adalah daerah/ wilayah diterminal penumpang sampai apron. Termasuk Security Check, dan Check In Counter. Setiap orang yang memasuki dan berada didaerah ini, diawasi dengan sangat ketat. Hanya penumpang yang telah memiliki tiket dan melewati pemeriksaan keamanan (security check) yang boleh berada di Steril Area.

Saya berasumsi, berarti porter dilarang masuk daerah ini (daerah yang tante saya masuki, boarding lounge).

 

Boarding Lounge adalah bagian dari gedung terminal penumpang (Steril Area), sebuah tempat yang nyaman untuk menunggu jadwal terbang pesawat. Biasanya sebelum masuk Boarding Lounge, penumpang diharuskan membayar pajak bandara, antara Rp25000,- sampai Rp 30000,-. Biasanya pula, penumpang disarankan untuk datang atau check in 1 jam sebelum jadwal keberangkatan.

 

Melanjuti cerita saya tadi, Rp 25.000,- saya keluarkan dari saku celana dan saya berikan pada si porter 311. Tapi yang terjadi adalah si porter 311 menolak dan bilang, “Masa bisa keluar negri tapi cuma bisa ngasih segini.”

Porter 311 sudah mulai kurang ajar. Saya bertanya siapa namanya, tapi dia masih diam saja. Saya pernah membaca kalau gaji seorang porter hanya berkisar antara Rp 500.000,- an saja. Sehingga saya pun tanpa marah2 merogoh kocek lagi, dan saya berikan porter 311 itu Rp 50.000,-

Setelah semua selesai, akhirnya saya menuju mobil. Dan dari kejauhan si porter 311 berteriak, “Masih mau nama gue gak nih?”, sambil sedikit berlari menjauh.

Agak kurang sopan bukan?

Saya tentu sangat marah. Saya tidak tahu apa masalah si porter tersebut. Tapi yang saya sesalkan hanya manner dari porter itu. Memang, keterampilan utama yang harus dimiliki seorang kuli angkut/ porter adalah kekuatannya. Tapi tidak salah bukan, kalau porter juga harus mengutamakan sopan santun?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: