Pemberian Kompensasi Yang Sering Tidak Dipenuhi Maskapai Penerbangan Saat Mengalami Delay


Nama   : Arief Maulana Tawakal

NIM     : 2241.06.224

Kelas   : S1 MTU D

Keterlambatan adalah tidak terpenuhinya jadwal penerbangan yang telah ditetapkan oleh perusahaan angkutan udara niaga berjadwal karena berbagai faktor penyebab.

Faktor Penyebabnya antara lain :

  • Faktor Teknis seperti kerusakan pada pesawat udara, migrasi sistem yang mungkin

          dilakukan maskapai penerbangan tetapi masih belum sempurna, dll.

  • Faktor Cuaca seperti hujan, asap yang diakibatkan pembakaran hutan dan gunung

          meletus, angin topan, dll.

  • Faktor Operasi seperti adanya penerbangan VVIP di suatu bandara, terlambatnya

        pengisian bahan bakar, terlambatnya proses check-in dan boarding, keterlambatan cathering.

  • Faktor lain-lain seperti kurangnya crew dan pilot yang beroperasi, ketersediaan

          pesawat udara, menunggu penumpang lain karena kapasitas seat belum terpenuhi, dll.

Keputusan Menteri No. 25 Tahun 2008 mengenai ( Penyelenggaraan Angkutan Udara ) dan juga mengatur tentang keterlambatan pengangkutan penumpang karena alasan apapun diatas tersebut terutama pada Pasal 36 yang berisi :

Pasal 36

Kewajiban pengangkut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b, untuk keterlambatan karena kesalahan pengangkut tidak membebaskan perusahaan angkutan udara niaga berjadwal terhadap pemberian kompensasi kepada calon penumpang dalam bentuk :

  1. Keterlambatan lebih dari 30 (tiga puluh) menit sampai dengan 90 (Sembilan puluh) menit, perusahaan angkutan niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan ;
  2. Keterlambatan dari 90 (Sembilan puluh) menit sampai dengan 180 (seratus delapan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau makan malam dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, apabla diminta oleh penumpang ;
  3. Keterlambatan lebih dari 180 (seratus delapan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan niaga berjadwal lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya ;
  4. Apabila terjadi pembatalan penerbangan, maka perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib mengalihkan penumpang ke penerbangan berikutnya dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya ;
  5. Apabila dalam hal keterlambatan sebagaimana tercantum dalam huruf b dan c, serta pembatalan sebagaimana tercantum pada huruf d, penumpang tidak mau terbang/menolak diterbangkan, maka perusahaan angkutan udara niaga berjadwal harus mengembalikan harga tiket yang telah dibayarkan kepada perusahaan.

Keputusan Menteri No 25/2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara sudah jelas peraturannya tetapi faktanya masih banyak maskapai penerbangan yang masih tidak dapat mengimplementasikan Keputusan Menteri tersebut, apa maskapai penerbangan tidak mengerti tentang isi Keputusan Menteri tersebut atau Keputusan Menteri tersebut dianggap maskapai penerbangan sebagai peraturan yang “boleh-boleh saja” dilanggar.

Sebagai contoh kejadian yang belum lama terjadi yang menimpa penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-770 rute Jakarta-Manado, Sabtu, 4 Juni 2011 malam. Manajemen Lion Air menelantarkan penumpang JT-770 rute Jakarta-Manado yang menginap di ruangan tunggu Bandara Hasanuddin, Makassar, Sabtu tengah malam hingga Minggu dini hari. Hal ini sudah jelas bahwa penerbangan delay lebih dari 180 menit dan manajemen Lion Air tidak memberikan kompensasi apapun kepada penumpang JT-770 tersebut, hanya diberikan mie instan yang sudah berbau tidak sedap. Peraturan yang ada sudah jelas apabila delay terjadi lebih dari 180 menit maka maskapai penerbangan wajib memberikan kompensasi kepada penumpang tersebut yaitu diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya dan bukannya menelantarkan penumpang untuk menginap di Bandara Hasanuddin, Makassar, tetapi harus disediakan penginapan atau Hotel yang terdekat dengan Bandara tersebut. Maka dalam hal ini hilangnya pengawasan Pemerintah terhadap maskapai penerbangan yang melanggar Keputusan Menteri No. 25 Tahun 2008 khusunya pasal 36. Seharusnya pemerintah dapat memberikan sanksi yang tegas terhadap maskapai penerbangan yang “Nakal”. Pegawai pemerintah dipekerjakan untuk melayani masyarakat bukan menelantarkan masyarakat, dan jangan hanya diam saja dibalik meja tanpa bekerja apapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: