Perencanaan RUNWAY, TAXIWAY, DAN APRON Bandara International Jawa Barat


Nama  : Denti Oktavia

 

Nim     : 223109056

 

Kelas   : D.III MTU

 

 

Provinsi Jawa Barat memiliki potensi sumber daya alam dan buatan yang tinggi, kualitas sumber daya manusia yang maju, serta posisi geografis yang strategis. Dengan berbagai kualitas dan potensi yang telah disebutkan, maka Jabar menjadi salah satu tempat tujuan bagi para investor, migran, serta wisatawan untuk beraktivitas. Jabar juga memiliki tingkat interaksi yang tinggi dengan wilayah domestik maupun mancanegara. Tingkat interaksi yang tinggi harus didukung dengan sarana transportasi yang memadai. Karena interaksi yang terjadi tidak hanya bersifat domestik tetapi juga internasional, maka sarana transportasi yang paling efektif adalah melalui transportasi udara. Selama ini bandara di daerah Jabar yang digunakan untuk sarana transportasi udara memiliki kelemahan yang cukup signifikan sehingga dirasakan perlu adanya suatu bandara internasional baru untuk menjawab kebutuhan transportasi wilayah Jabar di masa yang akan datang. Maka terbuatlah rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Hal yang penting dalam suatu bandara ialah runway, taxiway, serta apron yang dapat mengakomodasi kebutuhan penumpang serta pesawat yang akan beroperasi. Secara garis besar tujuan ini ialah untuk merencanakan desain Apron yang dibutuhkan di BIJB, desain yang dilakukan meliputi desain geometrik, perkerasan, geoteknik, hingga perencanaan cost. Desain dilakukan berdasarkan proyeksi jumlah penumpang dan kargo yang akan menggunakan bandara ini. Tahapan perencanaan dimulai dari perencanaan geometrik, dilanjutkan dengan perencanaan perkerasan, perencanaan geoteknik yang sesuai, dan yang terakhir perencanaan cost, untuk mengetahui biaya yang diperlukan untuk perencanaan Apron. Perencanaan menggunakan code ICAO untuk geometrik, metode CBR untuk perkerasan lentur, serta metode FAA untuk perkerasan kaku di apron. Keterangan lain yang tidak terdapat di dalam code dan metode, diambil dari referensi literatur atau bandara lain yang sudah ada. Hasil dari perencanaan desain dituangkan ke dalam layout desain, lalu untuk perencanaan cost dituangkan ke dalam Rancangan Anggaran Biaya (RAB).

Dari analisis geometrik, menghasilkan panjang runway yang dibutuhkan 3750 m. Runway berada pada orientasi arah 140-320. Perkerasan runway dan taxiway adalah perkerasan lentur dengan ketebalan 80 cm. Perkerasan apron adalah perkerasan kaku dengan ketebalan 80 cm. Dari analisis geoteknik, diketahui bahwa elevasi rencana RTA berada di atas elevasi tanah asli sehingga perlu dilakukan penimbunan. Perencanaan timbunan dilakukan dengan mempertimbangkan daya dukung tanah, penurunan konsolidasi, dan stabilitas lereng. Dari analisis biaya, dihasilkan total biaya yang dibutuhkan untuk konstruksi RTA lebih dari 1.5 trilyun rupiah. Overhead dan contingency diasumsikan dengan besaran masing-masing 10% dan 5%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: