Wowwwww Pesawat ditenagai hanya oleh sel bahan bakar hidrogen


Nama :  Wildani Abidzar

NIM :  224109267

Kelas :  S1 MTU D

Tanggal 7 Juli 2009 menjadi salah satu hari bersejarah bagi dunia penerbangan, ketika Antares DLR-H2 pesawat terbang dengan pilot tunggal mengudara dari Hamburg Airport, Jerman untuk pertama kalinya. Pesawat itu ditenagai hanya oleh sel bahan bakar hidrogen (hydrogen fiiel cells) yang sama sekali tidak memproduksi karbon dioksida dalam gas buangnya (zero CO2 emissions) kebisingannya sangat rendah. Fiiel cell (sel balian bakar) ditemukan pertama kali oleh Sir William Giwe lebih dari 160 tahun yang lalu antara tahun 1839-1842, tetapi istilah “fuel cell” diperkenalkan oleh Ludvvig Mond and Charles Langer pada 1889. Sementara penggunaan praktisnya dikembangkan oleh Francis Baron Thomas yang melakukan penelitian sejak tahun 1932 yang pada tahun 1959 berhasil mendemonstrasikan mesin las yang ditenagai oleh sel bahan bakar dengan tenaga 5 kw.

Sel bahan bakar adalah suatu perangkat yang menggabungkan hidrogen dan oksigen untuk menghasilkan listrik, panas, dan air. Sel bahan bakar sering kali dibandingkan dengan baterai. Keduanya berfungsi mengonversikan energi yang dihasilkan oleh reaksi kimia yang dapat digunakan menjadi tenaga listrik. Namun, berbeda dengan baterai yang harus diisi ulang (redxarged), sel bahan bakar akan menghasilkan listrik selama bahan bakar (hidrogen) tersedia, tanpa pernah kehilangan daya listriknya. Antares DLR-H2 dikembangkan oleh German Aerospace Center (Deutsches Zentrum fur Luft- und Raumfahrt, DLR) – Institute for Technical Thermodyna-mics (Institut fur Technische Thermody-namik – Stuttgart, Jerman yang bekerja sama dengan Lange Aviation, BASF Fuel Cells dan Serenergy, Denmar. Pesawat itu mempunyai jarak jelajah 750 kilometer (390 nm) dan dapat terbang selama lima jam dengan kecepatan maksimum sekitar 90 knots (170 km/jam).

Antares DLR-H2 yang dibuat dengan basis pesawat layang bermotor (self-launching motorglider) Antares 20E mempumai wingspan (rentang sayap) 20 meter, dibuat oleh Lange Aviation, perusahaan yang bermarkas di Rhineland-Palatinate, Jerman. Untuk dapat membawa sel bahan bakar dan penyedia hidrogen di pesawat terbang, 2 tangki tambahan digantungkan pada sayap yang telah diperkuat. Tangki sebelah kiri untuk sel bahan bakar dan tangki sebelah kanan untuk penyedia hidrogen dengan kapasitas isi 2 atau 4,9 kg.

Karena penambahan beban seratus kilogram untuk kedua tangki tersebut, sifat sifat aeroelastisitas sayap harus dihitung ulang untuk mencegah terjadi ma ketidakstabilan pesawat terbang. Opti-misasi yang dilakukan oleh DLR Institute for Aeroelastiriry (Institut furAero-elastik – Gottingen) menunjukkan Antares DLR-H2 mampu terbang sampai kecepatan 300 km/jam, tetapi sistem penggerak wing digunakan saat ini hanya mampu mendorong sampai kecepatan sekitar 170 km/jam.

Sel bahan bakar yang digunakan untuk memberi tenaga Antares DLR-H2 mempunyai daNtt listrik 25 kw tetapi beroperasi dengan efisiensi 52 persen ketika pesawat terbang mendatar, sekitar 10 kw. Efisiensi total sistem penggerak dari tangki sampai motor elektrik termasuk baling baling sekitar 44 persen yang berarti lebih dari dua kali lipat efisiensi mesin konvensional yang digunakan saat ini yang hanya mempunyai efisiensi sekitar 18-25 persen.

Fitur baru lainnya dari Antares DLR-H2 adalah cara koneksi antara fuel cells dan motor listrik utama”yang memberi . tenaga pesawat terbang. Sistem pengendali motor (motor controller) yang

dikembangkan bersama sama oleh Lange Aviation dan College of Advanced Technology di Beme/Biel ini mampu membangkitkan dan mengendalikan tegangan (voltages) dari 188 sampai 400 volts. Melalui hubungan langsung antara sel bahan bakar dan motor, efisiensi, biaya, keandalan, serta biaya perawatan dapat diminimalkan.

Antares DLR-H2 akan ditempatkan di Lufthansa Technik di Hamburg yang dalam tiga tahun mendatang akan digunakan sebagai wahana uji terbang aktivitas pengujian sel bahan bakar oleh DLR, sebagai bagian dari projek Fuel Cell Labs

Prof. Dr-Ing Johann-Dietrich Worner, Chairman of the Executive Board-DLR mengatakan bahwa DLR sudah mampu meningkatkan kinerja dan efisiensi sel bahan bakar sehingga pesawat mampu mengudara hanya dengan tenaga dari sel bahan bakar hidrogen tersebut, yang sekaligus mendemonstrasikan potensi teknologi/ue/ cells di masa depan. Namun dengan pencapaian teknologi sekarang ini penggunaan sel bahan bakar tampaknya lebih tepat untuk penyedia energi untuk sistem pesawat terbang seperti electrical system atau auxiliary power unit (APU) dan belum untuk pengganti mesin pesawat terbang.

Di dunia penerbangan dan antariksa, penggunaan hydrogen fiiel cells ini telah dilakukan sebelumnya meski hanya untuk memberi tenaga sistem pelistrikan (electrical system) seperti yang digunakan untuk pesawat antariksa dengan produk sampingan berupa air yang dimanfaatkan menjadi air minum kru.

Pada Februari 2008, Airbus berhasil menguji penggunaansel bahan bakar untuk memberi energi sistem tenaga hidrolik dan elektrik cadangan (back-up hydraulic and electric power systems) dan juga mengoperasikan aileron (kendali guling) pesawat riset Airbus A320 ATRA milik DLR dalam suatu uji terbang.

Selama pengujian, sel bahan bakar hidrogen mampu membangkitkan tenaga listrik ebesar 20 kW. Keandalan sistem ini juga terbukti dalam pengujian dengan manuver belok (tum) dengan high gravity dan manuver dengan zero gravity.

Pada Februari dan Maret 2008, Boe-
ing Research Technology Europe (BRTE) di Madrid, Spanyol dengan bantuan dari mitra mitra industri penerbangan yang berasal dari Austria, Perancis, Jerman, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat juga berhasil menerbangkan Boeing Fuel Cell Demonstrator, pesawat berpilot dengan tenaga sel bahan b;ikar hidrogen. Namun berbeda dengan Antares DLR-H2 jang sejak lepas landas hanya ditenagai oleh sel bahan bakar hidrogen. Boeing Fuel Cell Demonstrator lepps landas dengan kombinasi tenaga baterai dan sel bahan bakar.

Boeing Fuel Cell Demonstrator yang berbasiskan pesawat Dimona motorglider dengan dua kursi mempunyai rentang sayap 16,3 meter, dibuat oleh Diamond Aircraft Industries, Austria, dan dimodifikasi oleh BRTE termasuk penggunaan Proton Exchange Membrane (PBM) fiiel cell/lithium-ion battery hybrid system untuk menenagai motor listrik yang terhubung dengan baling-baling konvensional (conventional propeller).

Selama pengujian – yang dilakukan tiga kali di Ocana yang terletak di selatan Madrid, Spanyol – pesawat terbang menanjak sampai ketinggian 1.000 meter di atas muka laut dengan menggunakan kombinasi tenaga baterai dan tenaga dari sel bahan bakar. Setelah mencapai ketinggian jelajah, pesawat terbang hanya dengan tenaga dari sel ba-han bakar hidrogen selama kurang lebih 20 menit dengan kecepatan sekitar 100 km/jam.

Meskipun pemanfaatan sel bahan bakar hidrogen nampaknya menjanjikan bagi dunia penerbangan – dengan zero CO2 emission dan kebisingan yang sangat rendah – tetapi untuk pemakaian sebagai tenaga pendorong pesawat komersial masih menghadapi banyak kendala.

Menurut penelitian di Pennsylvania State University pada tahun 2006 lalu, pesawat komersial besar bertenaga sel bahan bakar hidrogen kemungkinan sudah dapat dibuat pada tahun 2020-an tetapi baru akan dapat melayani penumpang (in-service) sekitar tahun 2040 yang akan datang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: