Kurangnya Pengawasan Terhadap Alur Barang Penumpang Pada saat kedatangan


Nama  : Akbar Kharisma Pratama

NIM    :  2241.09.194

Kelas  : S1 MTU D TUGAS I

Kurangnya Pengawasan Terhadap Arus Barang Penumpang Pada saat kedatangan

Terdapat beberapa Bandar Udara Internasional di indonesia yang baik tetapi kurang baik dalam hal pengawasan terhadap barang bawaan passanger , tidak seperti yang di berlakukan di bandar udara internasional di negara lain , di sana pengawasan dilakukan tidak hanya dengan pengawasan oleh petugas ataupun CCTV tetapi barang penumpang yang dirasa berharga akan dipisahkan terlebih dahulu oleh petugas bandara dan di simpan tetapi yang diberlakukan di indonesia tidak sama dengan yang dilakukan oleh negara lain , bahkan di indonesia barang penumpang yang dirasa berharga hanya di pinggirkan tidak di simpan ditempat aman..

hal tersebut saya rasakan di pada saat saya pergi menggunakan pesawat dan membawa barang bawaan yang tidak terlalu besar , pada saat saya ingin mengambil barang bawaan saya , ternyata tas tas saya berada di sudut bagian tempat pengambilan barang , dan tidak hanya saya yang seperti itu , ada beberapa passanger yang seperti itu, dan pada saat ditanyakan kepada petugas ternyata barang tersebut di anggap berharga ..oalaaaaaahhh

( berikut beberapa yang saya kutip dari hukumonline.com )ada beberapa cara untuk menuntut ganti rugi kepada pihak bandara bila merasa dirugikan  , hal tersebut telah di tulis dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara (“Permenhub 77/2011”) memberikan jaminan bahwa pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap:

a.      penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka

b.      hilang atau rusaknya bagasi kabin

c.      hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat

d.      hilang, musnah, atau rusaknya kargo

e.      keterlambatan angkutan udara

f.       kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

Dalam menuntut ganti kerugian, penumpang dan/atau pengirim barang serta pihak ketiga yang mengalami kerugian harus memiliki bukti sebagai berikut (lihat Pasal 21 ayat [1] Permenhub 77/2011):

a.      dokumen terkait yang membuktikan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tiket, bukti bagasi tercatat (claim tag) atau surat muatan udara (airway bill) atau bukti lain yang mendukung dan dapat dipertanggungjawabkan;

b.      surat keterangan dari pihak yang berwenang mengeluarkan bukti telah terjadinya kerugian jiwa dan raga dan/atau harta benda terhadap pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat pengoperasian pesawat udara.

semoga dapat terinspirasi ,,

terima kasih !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: