Terbang Dengan Satu Mesin Dan Bird Strike?


Nama     : Annisa Nindya Kusuma

NIM       : 224109343

Kelas     : ZU09

Pesawat masih dapat terbang hanya dengan satu mesin, dengan kata lain pesawat bermesin ganda tetap mampu terbang walaupun mesin yang satunya mati. Begitulah yang sering kita dengar. Lantas bagaimana pada kasus bird strike? Salah satu contohnya kasus bird strike pada maskapai terbesar ketiga di UK (menurut total penumpangnya) yaitu Thomson Airways. Pada tahun 2007 yang lalu, Thomsonfly Boeing 757 melakukan pendaratan 20 menit kemudian setelah lepas landas dari Manchester Airport dikarenakan salah satu mesinnya mengalami kerusakan setelah kedatangan “tamu” yang tak diundang (dalam istilah penerbangan disebut bird strike).

 

“Jika pesawat mampu terbang dengan satu mesin, lantas mengapa diperlukan pendaratan darurat saat kawanan burung menyerang salah satu mesin?”

Pesawat dengan mesin lebih dari 1 (2 atau 3 atau 4), jika kehilangan salah satu mesin, maka mesin yang lain harus bekerja lebih keras (max power) untuk mempertahankan ketinggian pesawat. Malah jika dengan 2 mesin misalnya bisa 40 ribu kaki, dengan 1 mesin hanya bisa 20an ribu kaki. Max power ini di sertifikasi hanya terbatas 1 jam saja (jika lebih ada sertifikasi khusus ETOPS), jadi harus cepat-cepat mendarat. Untuk kasus Thomson, mesinnya stall dan terbakar. ( Capt. Fadjar Nugroho)

Beliau menjelaskan bahwa “Pada waktu terbang hanya dengan satu mesin di ketinggian maksimum (Single Engine Ceiling), mesin yang menyala mungkin akan berada pada tenaga maksimum atau full power. Kemampuan mesin untuk berada pada full power ini terbatas. Kemampuan ini dibatasi hanya boleh untuk 60 menit oleh otoritas. Oleh karena itu pesawat dengan satu mesin tidak boleh terbang di rute yang jaraknya lebih dari 60 menit terbang ke sebuah bandar udara.”

 

Tanggapan:

Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, saya baru memahami bahwa memang benar adanya pesawat dengan salah satu mesinnya yang mati masih mampu terbang (terbukti Thomsonfly 757 masih mampu terbang diangkasa selama 20 menit saja). Tetapi kemampuan ini hanya terbatas, yakni selama 60 menit. Tidak hanya pesawat yang mesinnya mati dikarenakan serangan burung (bird strike) saja tetapi tanpa penyebab itupun pesawat yang terbang dengan salah satu mesin yang mengalami kerusakan dipaksa untuk segera melakukan pendaratan darurat. Kurang dari 60 menit pilot dituntut untuk mencari airport terdekat untuk melakukan pendaratan karena ‘SAFETY IS TOP PRIORITY’.

ETOPS: ETOPS (extended perations)  adalah Aturan yang ditetapkan oleh  US Federal Aviation Administration (FAA) memungkinkan pesawat bermesin ganda untuk terbang jarak jauh dengan rute yang sebelumnya tanpa batas.

 

Narasumber:

Capt. Fadjar Nugroho (Capt. Pesawat A330 Qatar Airways)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: