Adam Air Terkena bandded dan Merugikan Masyarakat,Biro Perjalanan wisata serta dunia Pariwisata diINdonesia


Nama: Wildani Abidzar

Nim: 224109267

Kelas: S1 Mtu d

 

Pemerintah Indonesia telah meng-bandded salah satu budget carrier yaitu Adam Air pada tanggal 19 Maret 2008 jam 00.00 oleh Direktur Jendral Perhubungan RI untuk seluruh jalur penerbangannya. Adam Air sejak January 2007 telah diketahui mengalami berbagai permasalahan tentang keamanan penerbangan, 102 penumpang hilang di perairan Sulawisi yang sampai kini tidak tahu rimbanya, kemudian pada beberapa minggu yang lalu pesawat tergelincir di pelabuhan udara di Batam, sekalipun tidak menimbulkan korban dari 175 penumbang saat itu mempergunakan Adam Air.

Setelah pemegang saham terbesar [ 50% ] mengundurkan diri dari perusahaan Adam Air, maskapaay ini telah menunjukan akan mengalami kebangkrutan dikarenakan adanya konflik internal sampai akhirnya pemerintah mencabut izin penerbangan dari 52 jalur yang dilakukan di tanah air.
Penghentian dan pencabutan izin terbang yang dilakukan oleh pemerintah patut kita hargai, namun dari pencabutan tersebut menimbulkan effect tidak sedikit penumpang, biro perjalanan dan citra transportasi udara serta pariwisata Indonesia telah dirugikan oleh maskapaay penerbangan ini, mengingat seluruh penumpang ketika penghentian yang dilakukan oleh pemerintah sejak jam 00.00 pada tanggal 19 Maret 2008 yang menggraunded seluruh pesawat Adam Air, pencabutan yang dilakukan oleh pemerintah menurut Dirjen Perhubungan Udara Budhi M Suyitno pencabutan spesifikasi operational seluruh Adam Air disebabkan sejumlah penyimpangan baik dari segi operasi sumber daya manusia maupun perawatan pesat yang berpotensi membahayakan penerbangan dan keselamatan penumpang. Dengan dicabutnya sertifikasi operasi Adam Air, Dephub memberikan waktu tiga bulan bagi manajemen Adam Air untuk melakukan perbaikan. Jika dalam waktu tersebut tidak terdapat melakukan perbaikan maka bukan tidak mungkin akan mencabut Air Operator’s Certification atau sertifikasi operasi penerbangan
Sudah sejak jauh hari pada tanggal 3 Januari 2007 komisi V DPRI telah meminta kepada Pemerintah untuk menghentikan penerbangan Adam Air, ternyata seruan tersebut membutuhkan waktu selama satu tahun lebih, yang mengakibatkan akhirnya hampir terjadi musibah di Batam dengan tergelincirnya penerbanganan Adam Air, sekalipun tidak menyebabkan jatuhnya korban.

Rekomendasi dari auditor independen juga menyampaikan hal yang sama kepada pemerintah ketika Adam Air hilang di periaran Sulawisi, tapi pemerintah masih belum mengambil punishment dan sampai kini bila kita simak itupun hanya pemberhentian sementara dan masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki management Adam Air, termasuk DPD ASITA pun telah mengingatkan pada tahun 2007 tentang system reservasi yang sangat merugikan bagi biro perjalan wisata serta tingkat sercuritas reservasi.

Dengan pencabutan izin terbang oleh pemerintah tidak sedikit konsumen yang dirugikan termasuk agen perjalanan. Sekalipun dari pihak maskapaay menjanjikan untuk mengembalikan tiket yang telah dibeli oleh penumpang. Rasanya penyataan management Adam Air tersebut tidak sesederhana itu karena penumpang tidak membutuhkan pengembalian ticket, melainkan membutuhkan penerbangan dan berangkat sampai sesuai jadwal dan tempat tujuan. Biro Perjalan Wisata bukan tempat pengembalian uang client / maskapaay penerbangan.

KEPERCAYAAN TERHADAP ADAM AIR

Bagaimana biro perjalanan dan masyarakat tidak percaya dengan Adam Air, awal beroperationalnya Adam Air memberikan angin segar dan menyatakan diri sebagai butiquette airline sekalipun penyebutan butiquette airline tidak tercermin dari kesehariannya beroperational, dan terakhir memasuki tahun 2008 Adam Air kembali mendapat penghargaan sebagai Top Brand Airline di Indonesia oleh salah satu institusi yang memberikan penghargaan atas dasar penelitian pasar. Top Brand Index yang diperoleh dari survey pengukuran tiga dimensi, yaitu demensi Mind Share, Market Share, dan Commitment Share. Dengan kejadian penghentian operasional bagi Adam Air untuk melakukan penerbangan gugur semua terhadap penghargaan yang pernah diberikan dan kini tinggal apakah maskapaay ini masih mempunyai commitment terhadap hutang-hutang yang ditimbulkan serta pelayanan terhadap kemampuan konsumen.

Bila penghargaan Top Brand dengan penilaian commitment share dengan kejadian penghentian penerbangan hendaknya pihak management dapat mempergunakan maskapaay penerbangan lain untuk mengangkut penumpang yang telah membeli tiket, management mempunyai kepedulian dan memperhatikan kepentinganan pelayanan serta kepuasan konsumen tentu dapat teratasi dan tidak akan menjadi masalah kalau perusahaan mempunyai komintmen tentu dapat mempergunakan penerbangan seperti garuda atau merpani serta maskapaay lainnya untuk menambah frekwnsi penerbangan ke jurusan tertentu karena menurut data yang ada tiket yang dikeluarkan adalah jurusan denpasar, yogyakarta, medan, padang, makasar dan menado serta batam. Atau bila pihak mengetahui tentang kepuasan konsumen dan memperhatikan tentang undang – undang konsumen tentu pihak maskapaay tidak saja cukup menyampaikan bahwa semua ticket akan di refund melainkan memberikan pelayanan seperti memberikan kepada mereka hotel bagi mereka yang tidak dapat diberangkatkan baik yang ada diluar kota maupun dari asalnya kota pemberangkatan. pada umumnya bila suatu penerbangan mengalami keterlambatan selama 3 jam maka para penumpang diberikan meal / makan dan bila sampai tidak terbang maka penumpang akan diberikan akomodasi / hotel bertaraf bitang lima sedangkan bila keterlambatan kedatangan begasi menumpang akan diberikan kompensasi sekian ratus dollar untuk dapat membeli keperluan seperti pakaian dan keperluan sehari-hari khususnya terhadap kebutuhan clocthes manner, untuk besok diusahakan diberangkatkan, jadi bukan hanya disampaikan ticketnya akan dapat di refund dan dikembalikan uangnya. alangkah enaknya berusaha penerbangan di Indonesia. Ketika penghentian penerbangan Adam Air hampir seluruh staff menghilang di Airport, seharusnya petugas harus lebih banyak untuk did kerahkan ke Airport guna memberikan bantuan terhadap penumpang yang sedang mengalami kebingungan tetapi kenyataan sebaliknya, dimana pelayanan terhadap kepuasan konsumen serta keramah tamahan sebagaimana yang dipesan dalam sapta pesona Indonesia, mana public relation Adam Air.

ANGGOTA ASITA DIRUGIKAN ADAM AIR MILIARAN RUPIAH

Indonesaia diperkirakan mempunyai sekitar 4350 biro berizin dibawah panji anggota ASITA [ Assosiation Indonesia Travel Agency ] dan diperkirakan sekitar 50% anggota ASITA adalah merupakan agent dari Adam Air, dengan adanya penghentian operational maskapaay ini diperkirakan dana yang berada di management Adam Air berkisar 15 milliar rupiah yang tertanam. Angka tersebut diperhitungkan dari deposit yang di simpan untuk sebagai agent penerbangan dari setiap travel agent, diposito tersebut terjadi karena setiap yang akan menjadi agent Adam Air mempunyai kewajiban menyimpan deposito dengan penghitungan satu tiket Rp. 750.000 sampai dengan Rp. 500.000 / oneway ticket.

Masalah yang dihadapi oleh biro perjalanan bukan saja bahwa pihak Adam Air akan mengembalikan terhadap deposito yang telah tersimpan di management Adam Air, melainkan :

Disamping penumpang yang dirugikan tidak dapat berangkat diantaranya adalah biro perjalanan dimana biro perjalan tidak saja memproses reservasi dan penjual ticket, tetapi biro perjalanan juga melakukan reservasi terhadap hotel dan kebutuhan perjalan khususnya bagi group yang akan melakukan wisata, para biro perjalanan telah membayar untuk hotel, dan seluruh biaya kepentingan ground handling seperti kendaraan dan restaurant, membayar paket yang harus dipikul karena client agent tersebut tidak dapat berangkat sampai tujuan pada saat liburan mempergunakan Adam Air.

Undang Undang Perlindungan Konsumen No 8 Tahun 1999 dimana menunjukan pada pasal 1 Ketentuan Umum bahwa tujuan dari Perlindungan Konsumen adalah meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk menlindungi diri dan mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghidarkan dari ekses negatif pemakain barang dan atau jasa, meningkatkan pemberayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut haknya sebagai konsumen

Memperhatikan pasal tersebut diatas, bahwa pihak Adam Air telah merugikan para konsumen dan para konsumen berhak untuk melakukan penuntutan dan pihak biro perjalanan perlu turut melakukan perlindungan dan kepentingan terhadap suatu pelayan dan jasa diberikan oleh sebuah maskapaay penerbangan, dari pasal 4 menunjukan hak konsumen atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa serta hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif dan hak untuk mendapatkan kempensasi, ganti rugi dan atau pengantian apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Memperhatikan dari pasal – pasal yang terdapat dialam Undang – Undang tentang Konsumen No. 8 tahun 1990 dimana jelas – jelas pihak Adam Air telah merugikan dan menterlantarkan pihak konsumen yang membeli dan atau mempergunakan produk jasa yang dihasilkan dari management Adam Air. Dengan memperhatikan hal tersebut diatas, bahwa Anggota ASITA berkewajiban melindungi client yang telah membeli produk yang salurkan melalui Biro Perjalanan Wisata / Travel Agent.

KENAPA TRAVEL AGENT BERKEWAJIBAN MELINDUNGI KONSUMENNYA

Memperhatikan terminologi dimana biro perjalanan tidak mengenal kata konsumen, kata konsumen di biro perjalanan adalah client, , penerbangan passenger, hotel guest dan konsumen tour operator adalah customer dengan terminology tersebut maka biro perjalanan wisata / travel agent berkewajiban untuk membela dan melindungi client yang telah melakukan transaksi di biro perjalan. Dengan kejadaian Adam Air maka pihak biro perjalan perlu turut memperhatikan dan melindungi kepentingan clientnya yang dirugikan dari akibat suatu kegiatan yang berhubungan dengan produk yang didistribusikan dari suatu biro perjalanan yang mengakibatkan clientnya mengalami kerugian dari pihak maskapaay dan atau dari supply tourism product. Karena biro perjalanan berlaku sebagai in direct provider terhadap traveler. Adapun kerugian yang ditimbulkan tidak saja disebabkan masalah tidak dapat berangkat melainkan masa liburan yang direncanakan tidak terlaksana, kerugian tersebut tidak dapat dinilai dengan uang, orang tua disamping harus mengurus masalah ticket, kemudian harus mengurus dan menenagkan anak-anaknya mereka terutama terhadap psychologi anak-anak yang telah berbinar-binar akan menikmati liburannya atau mengunjungi nenek dan saudaranya disana.

Pihak biro perjalanan tidak dapat tinggal diam termasuk ASITA sebagai induk organisasi dari para biro perjalan wisata di Indonesia yang sudah lama sering dirugikan oleh penerbangan dan menjadikan biro perjalan sebagai pekerja dan kuda tunggangan yang tidak diberi makan atau gaji, dan bahkan kadang-kadang harus menanggung kerugian, seperti kini keuangan yang ada di penerbangan maskapaay Adam Air diperkirakan berkisar Rp. 15 miliar rupiah yang tertanam dan tidak liquit.

DAMPAK PENGHENTIAN DAN KERUGIAN

Kerugian biro perjalanan tidak saja dananya tersimpan di Adam Air melainkan kepercayaan para pengguna jasa penerbangan yang membeli ticket di biro perjalan tidak dapat melakukan perjalanan dan atau berlibur yang telah dirancang serta dipesan hotel dan sara wisata lainnya yang telah dibayar oleh biro perjalan.

PELAJARAN UNTUK PEMERINTAH

Suatu pelajaran bagi pemerintah begitu mudah memberikan perizinan serta pemerintah yang pemaaf dan penuh toleran, bila dapat kita perbandingkan perizinan di Indonesia begitu mudah untuk berusaha di dunia usaha penerbangan, kalau kita lihat negara vietnam yang kini jumlah kunjungan wisatawannya telah melampaui vietnam sampai saat ini belum mempunyai national carrier / maskapaay penerbangan, malaysia hanya hanya menampang penuh dengan MAS dan Air Asia, China dengan jumlah manusia yang telah melebihi 1 milliar manusia hanya mempunyai China Airline dan dalam negerinya China Eastern, sedangkan di Indonesia mempunyai berapa maskapaay, tetapi ternyata semua maskapaay bermasalah termasuk maskapaay penerbangan Garuda dan Merpati yang nota bena dibawah BUMN

Kemudahan di Indonesia untuk berusaha cukup dengan tiga pesawat dan itupun sewa, dari kata kemudahan dapat disimak sudah berapa maskapaay penerbangan yang baru muncul kemudian tenggelam lagi, hal ini tidak dipelajari secara saksama oleh pemerintah dan terus mengeluarkan perizinan bagi pelamar,

Pemerintah sudah harus mempunyai pengalaman melihat sekian banyak izin perusahaan penerbangan yang dikeluarkan yang tadinya terbang kemudian menghentikan penerbangannya seperti : Jatayu air yang baru terbang tidak lama kemudian menutup diri, Star Air – Deraya [ penerbangan komersia ], – Simpati, Suelawa, Boraq, Transna, semuanya menghentikan operasional, ternasuk Awe Air yang kemudian perizinannya dialihkan atau di ke Air Asia. [ akhirnya perizinan penerbangan menjadi dagangan bagi oportunis usaha penerbangan ]. dan ini tentu sangat memprihatinkan. Jadi penghentian operational Adam Air perlu menjadi perhatian dan pelajaran bagi pemerintah untuk memberikan perizinan terhadap usaha penerbangan.

KONDISI PENERBANGAN INDONESIA

Pemerintah perlu memperhatikan dari kenakalan dari pengusaha penerbangan, sering dilakukan dari pihak maskapaay hanya memperhatikan cash flow mereka dengan strategi membayar vendor mereka seperti angkasa pura, pertamina dihutangi sampai berbulan-bulan, sedangkan dengan pihak biro perjalan diwajiban untuk melakukan deposit [ cash in advance ] dari cash flow tersebut pihak maskapaay mencharter pesawat / melakukan leasing, kondisi tersebut betul-betul tidak sehat bagi suatu usaha penerbangan. Kondisi tersebut tidak saja terjadi dengan maskapaay penerbangan swasta melainkan termasuk penerbangan yang dikelola oleh BUMN seperti Garuda dan Merpati [ Garuda rugi anak perusahaan Garuda kaya ] . Sebagai catatan bila para agent mau memperhatikan dan membaca dengan saksama dari perjanjiannya dengan pihak agent dari Maskapaay Merpati Nusanta dimana terdapat adendum yang berbunyi, bahwa agent diwajibkan melakukan penyetoran setiap hari dari penjualan, dengan demikian dimana uang diposito yang disetorkan oleh para biro perjalanan tetap utuh di maskapaay dan dapat dipergunakan untk kepentingan cash follow penerbangan tersebut.

Bila memperhatikan maskapaay penerbangan Garuda kini lebih sedih lagi, dimana Garuda seakan – akan sudah tidak berdaulat ticket dan keuang diatur oleh IATA dan City Bank – Courir Document oleh DHL jadi Garuda Indonesia sendiri sudah tidak ada kerjaan lagi dan tugasnya hanya sebagai pesuru untuk melakukan pemasaran sebagai simbol nasional, sedangkan management dan keuangan sudah berada ditangan orang asing, bila memperhatikan hal tersebut kenapa saham Garuda tidak dijual saja. Menghadapi tantangan global dan globalisasi kiranya saham Garuda sudah saatnya untuk dilepas, dan bila dilepas 50% saham kiranya masih banyak yang mau membelinya. kalau ingin dibandingkan dengan saham negara yang dilepas, seperti tambang merima defiden 5% sampai dengan 30% saja negara masih melepaskan. Kalau kita ingin jujur dari data pengalaman dan mau melakukan audit kapan maskapaay yang dikelelola oleh BUMN pernah memberikan defiden keuntung selain setiap saat perlu di infusing bila tidak di infusing maka burung besi BUMN tersebut kekurangan darah dan tidak dapat terbang.

Memperhatikan hal – hal yang telah diurai diatas, kiranya pihak DPR-RI yang kini sedang menggodok Undang – Undang Transportasi Udara perlu meletakan keberpihakan terhadap pemerintahan dan perlindungan terhadap konsumen dari maskapaay terhadap agent penjualan dan pengguna jasa maskapaay serta keselamatan dan kepuasan konsumen.

Obligasi moral perlu ditegakkan bagi penerbangan Indonesia perjalan wisata Indonesia perlu diselamatkan karena penebangan senantiasa disebut sebagai jempatan udara. Bagaimana kalau jembatannya kokoh / kuat tentu orang tidak berani mempergunakan, sedangakan Indonesia merupakan kepulauan sehingga jempatan udara diperlukan kontruksi yang tangguh dan berwibawa.

Dari tulisan ini dipandang perlu DPP ASITA segara mengambil langkah – langkah provokasi terhadap kepentingan anggota dan konsumen, guna menjaga existensi dan kedalautan organisasi sesuai yang terkandung dalam AD dan ART ASITA serta membela panji – panji pariwisata guna mengembalikan keparcayaan masyarakat terdahap usaha dunia biro perjalanan wisata baik terhadap konsumen dalam maupun luar negeri serta mendukung terhadap pemerintah yang sedang melakukan clean government

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: