Peningkatan Pelayanan di Pesawat dengan Menerapkan “Beauty Care” Kepada Penumpang First Class Khusus Penerbangan di atas 6 jam (Part 4)


Nama : Devi KusumaWardani

Nim     : 224109098

Kelas  : ZU 09

BAB II

Bagi para penumpang yang melakukan penerbangan di atas 6 jam dirasa mungkin sering menimbulkan rasa bosan atau kejenuhan dan rasa lelah yang menghinggapi diri mereka. Hal tersebut dikarenakan jarak tempuh tujuan sangat jauh dan keterbatasan gerak bagi mereka di dalam pesawat karena luas dari ruangan di dalam pesawat yang mereka tempati kurang memberikan keleluasaan. Apalagi dengan lamanya penerbangan bagi mereka yang memiliki phobia pada ketinggian dapat menimbulkan rasa stress dan ketidaknyamanan selama penerbangan.

Selain itu dapat dilihat dari para penumpang yang memilih pelayanan first class tentunya adalah para penumpang yang memiliki tingkat kesibukan pekerjaan dan kegiatan yang cukup padat. Pastinya pelayanan terbaik yang telah diberikan oleh cabin crew pada saat penerbangan dirasa masih kurang seperti pemberian food and beverage, adanya flight entertainment (video, audio), magazine, dan pemberian souvenir.

Maka dari itu penulis memiliki ide yang dapat meningkatkan kepuasan penumpang first class untuk penerbangan diatas 6 jam dengan menerapkan “beauty care” pada saat penerbangan. Disamping itu penerapan “beauty care” dapat meningkatkan pendapatan pada maskapai penerbangan tersebut.

Berdasarkan pendapat dari narasumber dari segi sales dan marketing bahwa penerapan beauty care service di dalam pesawat bagi penumpang premium class atau first class diperlukan perencanaan yang matang seperti dilakukan cost and benefit analysis. Apabila penerapan beauty care itu menjadi suatu inovasi untuk meningkatkan pelayanan bagi premium class, tidak masalah. Karena di era sekarang airline bersaing dalam services yang dapat memanjakan penumpang.

Namun dari segi operational, penerapan beauty care service dirasa kurang bermanfaat, sebab yang dibutuhkan darisegi air crew adalah service care, keramahan dalam pelayanan kepada penumpang, cara penanganan penumpang dan safety pada saat penerbangan.

Perbedaan pendapat antara manajement perusahaan dengan crew pesawat tersebut menunjukkan bahwa penerapan “beauty care” ini tidaklah semudah yang direncanakan, hal demikian disebabkan banyak faktor yang perlu diperhatikan karena akan menimbulkan dampak baik maupun buruk bagi maskapai penerbangan dari suatu penerapan tersebut.

Hal yang perludiperhatikanadalah:

  1. Unit kerja yang ahli di bidang beauty care. Dalam hal ini bukan pramugari, melainkan suatu unit khusus ahli kecantikan untuk melayani beauty care dalam pesawat bagi penumpang first class.
  2. Perubahan layout dalampesawat.  Penerapan beauty care memungkinkan perubahan layout dalam pesawat. Karena akan mengorbankan seat di pesawat.
  3. Adanya biaya tambahan. Apabila beauty care dapat menjadi revenue tambahan bagi airlines, maka tidak ada salahnya dikenakan biaya tambahan. Dan biaya tambahan tersebut akan dikenakan pada biaya tiket penumpang.

Sehingga maskapai yang dapat melakukan penerapan “beauty care” ini adalah maskapai penerbangan yang telah memiliki tingkat profit diatas titik break event point (BEP) atau titik impas, dimana gambaran keadaan keuangan dari usaha yang telah dilakukan berada diatas BEP menunjukkan laba dari suatu usaha yang diperoleh. Dan penerapan “beauty care” harus sesuai dengan UU RI No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Sehingga penerapan “beauty care” tidak mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: