APAKAH FSC (FULL SERVICE CARRIER) KURANG DIMINATI DENGAN HADIRNYA LCC (LOW COST CARRIER)? LANDASAN TEORI (PART II)


Kelompok : 1 (Tugas 2)

Ketua :

Netti Yuliarti (2241.10.176)

Anggota :

Elparida Arni B (2241.10.133)

Claudia Kartika C (2241.10.163)

Kelas : S1 ZU10

 

LANDASAN TEORI

Kebutuhan masyarakat akan transportasi udara yang semakin meningkat mengakibatkan bukan hanya masyarakat kelas atas saja yang membutuhkan transportasi jenis ini. Maraknya penerapan strategi Low Cost Carrier bertujuan agar dapat menjangkau hampir seluruh kalangan masyarakat. Dengan demikian, penerbangan full service menjadi sedikit tersingkir. Tetapi apabila tetap konsisten maka pasar full service akan tetap ada. Menurut survey yang telah kami lakukan, berikut ini adalah beberapa landasan teori yang mendasari penerbangan full service:

  1. 1.    Teori mengenai pelayanan penerbangan

Pasal 97 ayat 1 UU No.1 tahun 2009 menyebutkan :

Pelayanan yang diberikan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam menjalankan kegiatannya dapat dikelompokkan paling sedikit dalam:

a. pelayanan dengan standar maksimum (full services);

b. pelayanan dengan standar menengah (medium services); atau

c. pelayanan dengan standar minimum (no frills).

Dari pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan Full Service Carrier merupakan suatu pelayanan yang diberikan oleh maskapai penerbangan dengan standar maksimum. “Maksimum” ini berarti pelayanan diberikan secara penuh. Pelayanan tersebut mencakup pelayanan pre-flight, in-flight, dan post-flight. Sehingga pelayanan yang akan diterima oleh penumpang yakni termasuk pelayanan sebelum melakukan penerbangan (pelayanan reservasi, pelayanan pengaduan pelanggan, proses check-in yang mudah), ketika melakukan penerbangan (pengaturan tempat duduk, makanan dan minuman, musik, koran, majalah), dan setelah melakukan penerbangan (pengambilan bagasi, pemesanan hotel atau taxi). Sedangkan pada Low Cost Carrier, penumpang hanya akan menerima pelayanan dengan standar minimum (layanan dasar), yaitu dengan mengurangi fasilitas yang diberikan kepada penumpang, seperti tidak adanya catering, hiburan, dan fasilitas-fasilitas tambahan lainnya.

  1. 2.    Teori berkaitan dengan biaya

 

Supriyono (1999 : 16), mengemukakan bahwa biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenue) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.

 

Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa, apabila biaya yang dikeluarkan serendah mungkin, profit yang dapat diperoleh bisa lebih besar. Untuk dapat memperoleh profit, total pendapatan harus dikurangi dengan total biaya, jika dalam pengurangan tersebut total biayanya rendah, maka selisih positif yang diperoleh akan lebih besar.  Inilah yang mendasari perusahaan penerbangan berupaya untuk menekan pengeluaran mereka, agar keuntungan yang dapat mereka peroleh maksimal dengan mengadakan layanan Low Cost Carrier. Dalam penerapan Full Service Carrier, meskipun perusahaan penerbangan tidak melakukan penekanan biaya, tetapi demi memaksimalkan revenue guna menutupi biaya-biaya operasional yang dikeluarkan, maka perusahaan penerbangan ini memberlakukan tarif yang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif Low Cost Carrier. Penerapan tarif yang tinggi juga dibarengi dengan pemaksimalan kualitas pelayanan yang diberikan kepada penumpang, sehingga meskipun tarifnya tinggi bukan berarti perusahaan penerbangan full service akan kehilangan penumpangnya.

 

  1. 3.    Teori harga menduga kualitas

‘’……..Penetapan harga yang lebih tinggi untuk suatu produk akan membuat konsumen percaya bahwa produk itu berkualitas lebih tinggi sehingga dapat menyebabkan penjualan serta laba yang diterima lebih besar………” (Lincolin Arsyad,2008).

Pemberian layanan yang optimal biasanya diiringi oleh harga yang tinggi. Seperti halnya Garuda Indonesia, setiap mendengar nama maskapai penerbangan ini, selalu yang terlintas dalam pikiran kita adalah harga tiket yang mahal namun dengan fasilitas premium. Lain halnya apabila kita mendengar nama Air Asia, maka yang kita pikirkan adalah harga tiket yang murah tetapi tidak mendapatkan makanan selama di pesawat. Oleh karena itu, penentuan harga harus dilakukan berdasarkan value dari suatu penerbangan yang dapat dirasakan oleh penumpangnya.

  1. 4.    Teori keselamatan penerbangan

Pasal 1 nomor 48 UU No.1 tahun 2009 menyebutkan “Keselamatan Penerbangan adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dalam pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.”

 

Keselamatan penerbangan adalah syarat yang tidak dapat dilanggar dengan alasan apapun dan dalam kondisi apapun. Dengan tarif tinggi yang diberlakukan dalam Full Service Carrier, bukan hanya fasilitas tambahan yang diperoleh penumpang, melainkan juga dengan mengutamakan keselamatan penerbangan, dibuktikan dengan pemberlakuan dana asuransi yang besar bagi setiap penumpangnya. Sedangkan dalam Low Cost Carrier, peniadaan fasilitas tambahan selain untuk meningkatkan renevue, juga agar anggaran yang dimiliki oleh perusahaan penerbangan dapat dialihkan untuk menopang penjaminan keselamatan penerbangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: