BAGASIKU BUKAN BAGASIMU

21 November 2011

NAMA : RIA AGNES NATASHIA

NIM/KELAS : 224109196/D

 

BAGASIKU BUKAN BAGASIMU

Bagasi itu hal yang terpenting dalam setiap keberangkatan kemanapun kita mau. Baik itu barang bawaan yang akan di masukkan ke dalam bagasi pesawat/yang akan kita bawa ke dalam pesawat dan kita letakkan ke dalam cabin pesawat. Oleh sebab itu, hati-hatilah dengan barang bawaan yang kita bawa, jangan telalu berlebihan, mencurigakan/bawa perlengkapan yang dilarang.

Disini saya ingin berbagi tentang permasalahan bagasi yg di bawa oleh ayah ketika beberapa tahun lalu dia dinas kerja di Jepang menggunakan maskapai Garuda Airline. Saat proses keberangkatan dari Jakarta (Soekarno Hatta Airport) ke Jepang (Tokyo Airport) tidak ada permasalahan, baik-baik saja namun ketika sampai di Jepang, ada kendala yang dialami ayah saya yakni tertukarnya tas (bagasi) yang seharusnya dia bawa malah terbawa oleh turis lain yang ke Jepang juga. Ayah saya sempat panik dan beliau mengurus permasalahan tersebut ke pihak bandara.

Dengan beberapa tahap, penindaklanjutan kejadian tersebut akan diproses. Kejadian tersebut itu dikarenakan ketidakamanan broading pass dan broading number sampai-sampai bias tertukar dengan orang lain. Alhasil pihak bandara Tokyo menyarankan untuk ayah saya menunggu proses selama 1x24jam, dan akan di urus, apabila tas milik saya ketemu akan di antarkan ke tempat dinas saya selama di Jepang. Dan akhirnya, ada turis luar yang menghubungi pihak bandara kalau tasnya tertukar, dan pihak bandarapun mengurus kejadian tersebut ke tempat masing-masing.

Hal ini terjadi ada sebab kemungkinan dari pihak penumpang itu sendiri karena tidak membedakan tas/koper yg di bawa akan terlihat tas itu benar-benar barang bawaannya sendiri serta meyakinkan bahwa itu kepunyaannya. Jangan hanya menyalahkan pihak bandara, sistem kerja bandara itu sendiri ataupun keamanan broading di bandara itu. Pihak Garuda sangat memberikan pelayanan yang terbaik buat penumpangnya termasuk yang ayah saya alami.

 

Iklan

sesampai di natuna tidak menemukan bagasi ” WINGS AIR”

12 Oktober 2011

Nama              : Niki Dio Trisandika

Nim                 : 2241.09.134

Kelas              : MTU D S1

Tugas             : GH 2

 

Saya  membaca tentang maskapai WINGS AIR mengenai bagasi penumpang yang tidak di angkut dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya di maskapai tersebut kalau pesawat WINGS AIR over capacity, begini sedikit kisah keluhan para penyumpang dari maskapai WINGS AIR : Sabtu, 02 Oktober 2010 tujuan kami ke Kabupaten Natuna. Letaknya paling utara dan paling jauh dari kabupaten-kabupaten lain di Kepulauan Riau. Oleh karena letaknya yang cukup jauh dan dipisahkan oleh Laut Natuna maka untuk cepat sampai di Ranai Ibu Kota Natuna harus menggunakan pesawat terbang.

Hari itu kami menggunakan maskapai penerbangan Wings Air. Jadwal penerbangan dengan menggunakan Maskapai Wings Air dari Bandara Hang Nadim di Batam adalah jam 09.10 pagi dan dijadwalkan sampai di Bandara Ranai di Natuna pada pukul 10.35. Kami harus check in pagi sekitar jam 08.00 pagi di Bandara Hang Nadim.

Pagi itu kami sampai di Bandara Hang Nadim Batam. Langsung menuju check in counter tujuan Natuna. Proses yang masih manual yang tidak terkomputerisasi mengakibatkan proses check in begitu lama. Terlebih penumpang yang akan melakukan check in untuk tujuan Natuna semakin siang semakin banyak sehingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Saya pun duduk menunggui beberapa tas dari tim kami. Sementara hampir sekitar 30 menit antrian proses check in tidak bergerak.

Pada saat proses check in kami memasukkan 2 tas ransel besar. 1 travel bag dan 1 tripod ke bagasi pesawat dengan total masing-masing bagasi tak melebihi batas berat bagasi untuk setiap penumpang. Tas ransel milik saya hanya 9,7 kg sementara 2 tas lainnya tak melebihi berat tas ransel yang saya bawa. Proses check in pun selesai. Lalu kami menuju gate A5 di lantai 2 untuk menunggu pesawat. Cuaca saat itu cerah.

Sekitar 30 menit sebelum keberangkatan petugas informasi memberitahukan bahwa penerbangan satu-satunya ke Natuna dengan Wings Air ditunda selama 1 jam 20 menit. Sehingga, jadwal keberangkatan yang tadinya pukul 09.10 menjadi pukul 10.30. Selama menunggu pesawat yang ditunda keberangkatanya penumpang Wings Air tujuan Natuna diberikan sekotak snack yang berisi satu teh kotak dan satu buah wafer.

Sekitar pukul 10.30 perjalanan ke Natuna dengan pesawat berbaling-baling ini siap terbang. Pesawat ini hanya punya 2 baris kursi. Di sebelah kanan dan 2 baris di sebelah kiri. Sampai mendarat di Bandara Ranai yang tidak begitu besar sekitar pukul 12.00 siang.

Setelah proses mendarat sempurna penumpang dipersilakan keluar dari pesawat. Kemudian menuju bangunan di bandara yang tidak jauh dari landasan tempat pesawat mendarat untuk proses pengambilan bagasi. Saat kami keluar dari pesawat menuju tempat pengambilan bagasi tampak cukup banyak orang di sekitar bangunan itu.

Ada yang mau berangkat dengan pesawat yang sama. Ada yang menunggu keluarga yang telah mendarat. Dan, ada juga yang akan mengambil barang bawaannya.

Setelah menunggu agak lama truk pengangkut bagasi sampai di depan bangunan yang ternyata bangunan tersebut adalah kantor untuk check in dan klaim bagasi. Beberapa penumpang berebutan mengambil bagasi karena tidak menggunakan ban berjalan seperti yang ada di bandara-bandara besar.

Setelah penumpang yang mengambil bagasi agak berkurang kami pun mencari barang bawaan kami yang sebelumnya kami masukkan ke bagasi di Bandara Hang Nadim. Setelah mencari sana-sini dan bertanya ke petugas bandara dari 3 rangkaian truk pengangkut bagasi penumpang tak satu pun kami menemukan barang bawaan kami.

Petugas bandara yang kami tanya pun memberikan jawaban kurang lebih, “kami hanya mengambil barang dari pesawat dan hanya ini barang tersebut. Untuk pengurusan barang yang tidak ada silakan menghubungi perwakilan Wings Air di kantornya di ujung sana,” kata petugas itu sambil menunjuk lokasi bangunan lain kurang lebih sekitar 80 meter dari tempat penurunan bagasi.

Ternyata bukan hanya kami saja yang barang bawaannya tidak ada. Ada sekitar 19 penumpang lain yang barang bawaannya juga tak ada. Keluh kesah yang saya dengar seperti berikut. “Harusnya kasih tau dong sebelum keberangkatan kalau barang yang masuk bagasi nggak semuanya diangkut.” Ada juga yang bilang, “kok, nggak ada pemberitahuan sih tadi sebelum berangkat kalau pesawat over capacity.”

Saya juga termasuk yang agak bingung dengan Wings Air ini. Karena, dari 3 tas kami dan 1 tripod yang kami bawa tak satu pun diangkut Wings Air ke Ranai. Semua baju, charger handphone, dan laptop semua ada di tas tersebut.

Ternyata dari beberapa penumpang dan orang-orang setempat yang saya tanyai juga pernah mengalami hal sama dengan penerbangan yang sama. “Iya, tas saya juga pernah ditinggal di Batam beberapa waktu lalu saat libur lebaran,” ujar Bapak Darwis, seorang pengemudi taksi. Hal yang sama juga terjadi pada Ibu Satiyah, penduduk asli Ranai. “Tas saya udah ditinggal sejak hari Kamis. Mana isinya oleh-oleh untuk anak saya lagi. Mungkin udah remuk kali.”

Bapak Amar lebih parah. Walaupun baru mendarat tapi 6 tas dari 15 orang rombongannya ditinggal di Batam. Padahal, barang bawaan tersebut berisi barang dan bahan untuk acara pernikahan kerabatnya. Tapi, harus menunggu sampai 2 hari kemudian agar barangnya sampai di Ranai. Padahal, acara pernikahan akan dilaksakan esok hari.

Dari beberapa orang yang saya tanyai mengakui ternyata hanya penerbangan Wings Air saja yang sering meninggalkan barang bawaan penumpang yang masuk dalam bagasi. Penumpang pun sepertinya tak punya pilihan lain selain Wings Air karena penerbangan ini menjadi satu-satunya penerbangan langsung dari Batam setelah Riau Airlines tidak beroperasi. Protes dan keluhan dari penumpang yang dikecewakan ini juga sudah sering dilakukan. Tetapi, sepertinya pihak maskapai Wings Air tidak begitu mempedulikannya. Terbukti dari seringnya terjadi hal ini yang sangat mengecewakan dan merugikan penumpang.

Terlebih kami yang bukan tinggal di Ranai. Harus menunggu dua hari berikutnya untuk diantarkan barang bawaan kami dari Batam. Itu pun kalau tepat diantarkan pada hari yang dijanjikan karena ada juga barang bawaan yang harus diterbangkan 4 hari atau bahkan seminggu kemudian.

Bagi kami yang merupakan pendatang di Ranai dan hanya singgah selama 1 hari tentu ini sangat merugikan. Jadwal kami yang seharusnya sudah ke Anambas harus rela dibatalkan dan harus mengalihkan tujuan ke Pontianak untuk kembali ke Batam. Karena, jadwal kapal laut yang hanya satu minggu sekali.

Dari cerita di atas dapat disimpulakan memang dari pihak maskapai nya tidak begitu menghiraukan keluhan sebelumnya dan membiarkan ini semua terjadi pada setiap konsumen yang tidak mengetahui mengapa semmua ini di biarkan  oleh  pihak maskapai tanpa memberitahuan informasi kepada para penumpang . sangat amat mengecewakan pelayanan nya. Menurut saran saya semua yang bekerja di manajemen “wings air” di ganti dengan yang baru dan sistem manajamen yang berbobot dan dapat menarik pelanggan untukl membuktikan kualitas baru dari pesawat WINGS AIR ini . sehingga citra di mata pengguna jasa WINGS AIR tidak terus menerus menyimpan rasa kecewa terhadap maskapai ini . dengan motto “we will give you good service in pre flight,in flight, and in post flight for all customer !! “ hemmm not bad and make a big changes ! :)


Sesampai di Natuna Tidak Menemukan Bagasi Wings Air

5 Oktober 2011

Nama              : Niki Dio Trisandika

Nim                 : 2241.09.134

Kelas              : MTU D S1

Tugas             : GH 2

 

Saya  membaca tentang maskapai WINGS AIR mengenai bagasi penumpang yang tidak di angkut dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya di maskapai tersebut kalau pesawat WINGS AIR over capacity, begini sedikit kisah keluhan para penyumpang dari maskapai WINGS AIR : Sabtu, 02 Oktober 2010 tujuan kami ke Kabupaten Natuna. Letaknya paling utara dan paling jauh dari kabupaten-kabupaten lain di Kepulauan Riau. Oleh karena letaknya yang cukup jauh dan dipisahkan oleh Laut Natuna maka untuk cepat sampai di Ranai Ibu Kota Natuna harus menggunakan pesawat terbang.

Hari itu kami menggunakan maskapai penerbangan Wings Air. Jadwal penerbangan dengan menggunakan Maskapai Wings Air dari Bandara Hang Nadim di Batam adalah jam 09.10 pagi dan dijadwalkan sampai di Bandara Ranai di Natuna pada pukul 10.35. Kami harus check in pagi sekitar jam 08.00 pagi di Bandara Hang Nadim.

Pagi itu kami sampai di Bandara Hang Nadim Batam. Langsung menuju check in counter tujuan Natuna. Proses yang masih manual yang tidak terkomputerisasi mengakibatkan proses check in begitu lama. Terlebih penumpang yang akan melakukan check in untuk tujuan Natuna semakin siang semakin banyak sehingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Saya pun duduk menunggui beberapa tas dari tim kami. Sementara hampir sekitar 30 menit antrian proses check in tidak bergerak.

Pada saat proses check in kami memasukkan 2 tas ransel besar. 1 travel bag dan 1 tripod ke bagasi pesawat dengan total masing-masing bagasi tak melebihi batas berat bagasi untuk setiap penumpang. Tas ransel milik saya hanya 9,7 kg sementara 2 tas lainnya tak melebihi berat tas ransel yang saya bawa. Proses check in pun selesai. Lalu kami menuju gate A5 di lantai 2 untuk menunggu pesawat. Cuaca saat itu cerah.

Sekitar 30 menit sebelum keberangkatan petugas informasi memberitahukan bahwa penerbangan satu-satunya ke Natuna dengan Wings Air ditunda selama 1 jam 20 menit. Sehingga, jadwal keberangkatan yang tadinya pukul 09.10 menjadi pukul 10.30. Selama menunggu pesawat yang ditunda keberangkatanya penumpang Wings Air tujuan Natuna diberikan sekotak snack yang berisi satu teh kotak dan satu buah wafer.

Sekitar pukul 10.30 perjalanan ke Natuna dengan pesawat berbaling-baling ini siap terbang. Pesawat ini hanya punya 2 baris kursi. Di sebelah kanan dan 2 baris di sebelah kiri. Sampai mendarat di Bandara Ranai yang tidak begitu besar sekitar pukul 12.00 siang.

Setelah proses mendarat sempurna penumpang dipersilakan keluar dari pesawat. Kemudian menuju bangunan di bandara yang tidak jauh dari landasan tempat pesawat mendarat untuk proses pengambilan bagasi. Saat kami keluar dari pesawat menuju tempat pengambilan bagasi tampak cukup banyak orang di sekitar bangunan itu.

Ada yang mau berangkat dengan pesawat yang sama. Ada yang menunggu keluarga yang telah mendarat. Dan, ada juga yang akan mengambil barang bawaannya.

Setelah menunggu agak lama truk pengangkut bagasi sampai di depan bangunan yang ternyata bangunan tersebut adalah kantor untuk check in dan klaim bagasi. Beberapa penumpang berebutan mengambil bagasi karena tidak menggunakan ban berjalan seperti yang ada di bandara-bandara besar.

Setelah penumpang yang mengambil bagasi agak berkurang kami pun mencari barang bawaan kami yang sebelumnya kami masukkan ke bagasi di Bandara Hang Nadim. Setelah mencari sana-sini dan bertanya ke petugas bandara dari 3 rangkaian truk pengangkut bagasi penumpang tak satu pun kami menemukan barang bawaan kami.

Petugas bandara yang kami tanya pun memberikan jawaban kurang lebih, “kami hanya mengambil barang dari pesawat dan hanya ini barang tersebut. Untuk pengurusan barang yang tidak ada silakan menghubungi perwakilan Wings Air di kantornya di ujung sana,” kata petugas itu sambil menunjuk lokasi bangunan lain kurang lebih sekitar 80 meter dari tempat penurunan bagasi.

Ternyata bukan hanya kami saja yang barang bawaannya tidak ada. Ada sekitar 19 penumpang lain yang barang bawaannya juga tak ada. Keluh kesah yang saya dengar seperti berikut. “Harusnya kasih tau dong sebelum keberangkatan kalau barang yang masuk bagasi nggak semuanya diangkut.” Ada juga yang bilang, “kok, nggak ada pemberitahuan sih tadi sebelum berangkat kalau pesawat over capacity.”

Saya juga termasuk yang agak bingung dengan Wings Air ini. Karena, dari 3 tas kami dan 1 tripod yang kami bawa tak satu pun diangkut Wings Air ke Ranai. Semua baju, charger handphone, dan laptop semua ada di tas tersebut.

Ternyata dari beberapa penumpang dan orang-orang setempat yang saya tanyai juga pernah mengalami hal sama dengan penerbangan yang sama. “Iya, tas saya juga pernah ditinggal di Batam beberapa waktu lalu saat libur lebaran,” ujar Bapak Darwis, seorang pengemudi taksi. Hal yang sama juga terjadi pada Ibu Satiyah, penduduk asli Ranai. “Tas saya udah ditinggal sejak hari Kamis. Mana isinya oleh-oleh untuk anak saya lagi. Mungkin udah remuk kali.”

Bapak Amar lebih parah. Walaupun baru mendarat tapi 6 tas dari 15 orang rombongannya ditinggal di Batam. Padahal, barang bawaan tersebut berisi barang dan bahan untuk acara pernikahan kerabatnya. Tapi, harus menunggu sampai 2 hari kemudian agar barangnya sampai di Ranai. Padahal, acara pernikahan akan dilaksakan esok hari.

Dari beberapa orang yang saya tanyai mengakui ternyata hanya penerbangan Wings Air saja yang sering meninggalkan barang bawaan penumpang yang masuk dalam bagasi. Penumpang pun sepertinya tak punya pilihan lain selain Wings Air karena penerbangan ini menjadi satu-satunya penerbangan langsung dari Batam setelah Riau Airlines tidak beroperasi. Protes dan keluhan dari penumpang yang dikecewakan ini juga sudah sering dilakukan. Tetapi, sepertinya pihak maskapai Wings Air tidak begitu mempedulikannya. Terbukti dari seringnya terjadi hal ini yang sangat mengecewakan dan merugikan penumpang.

Terlebih kami yang bukan tinggal di Ranai. Harus menunggu dua hari berikutnya untuk diantarkan barang bawaan kami dari Batam. Itu pun kalau tepat diantarkan pada hari yang dijanjikan karena ada juga barang bawaan yang harus diterbangkan 4 hari atau bahkan seminggu kemudian.

Bagi kami yang merupakan pendatang di Ranai dan hanya singgah selama 1 hari tentu ini sangat merugikan. Jadwal kami yang seharusnya sudah ke Anambas harus rela dibatalkan dan harus mengalihkan tujuan ke Pontianak untuk kembali ke Batam. Karena, jadwal kapal laut yang hanya satu minggu sekali.

Dari cerita di atas dapat disimpulakan memang dari pihak maskapai nya tidak begitu menghiraukan keluhan sebelumnya dan membiarkan ini semua terjadi pada setiap konsumen yang tidak mengetahui mengapa semmua ini di biarkan  oleh  pihak maskapai tanpa memberitahuan informasi kepada para penumpang . sangat amat mengecewakan pelayanan nya. Menurut saran saya semua yang bekerja di manajemen “wings air” di ganti dengan yang baru dan sistem manajamen yang berbobot dan dapat menarik pelanggan untukl membuktikan kualitas baru dari pesawat WINGS AIR ini . sehingga citra di mata pengguna jasa WINGS AIR tidak terus menerus menyimpan rasa kecewa terhadap maskapai ini . dengan motto “we will give you good service in pre flight,in flight, and in post flight for all customer !! “ hemmm not bad and make a big changes ! 🙂


HILANGNYA BAGASI DI BATAVIA AIR

4 Oktober 2011

HILANGNYA BAGASI DI BATAVIA AIR

NAMA : Fika Finiyawati

NIM : 224109131

KELAS : D

Masih saja ada kehilangan atau rusak yang ada di dalam bagasi di bagasai maskapai penerbangan, contoh ada seorang penumpang yang melakukan penerbangan ke makasar,penumpang ini berangkat dari makasar ke Jakarta dengan menggunakan maskapai penerbangan Batavia Air,pada saat itu penumpangm melakukan transit dijakarta malam hari dan bagasi tersebut masih ada.

Pada keesokan harinya dia melakukuan penerbangan yang kedua dengan menggunakan maskapai penerbangan yang sama yaitu dengan Batavia Air,tetapi dengan tujuan yang berbeda di awal pertama penumpang tersebut melakukan penerbangan ke makasar,pada keberangakatan yang keduapenumpang ini melakukan peneerbangan ke Pekan Baru.misalnya,penumpang ini memasan tiket dengan tujuan ke Pekan Baru sekitar pukul 11:00,dan penumpang ini berangkat pada pukul 07:00 dengan nomer kursi 4E,nomer penerbangan 173,nomer bagasi 569.

Setelah penerbangan selesai akhirnya penempung sampai ditempat tujuan (pekan baru) tetapi setibanya di pekan baru penumpang mengalami kekecewaan karena bagasi penumpang tersebut tidak dapat dietemukan !!!! disini pihak batavia air tidak ada tanggung jawabnya kepada penumpang yang sudah menitipkan bagasinya.setelah mengetahui bagasinya hilang,penumpang ini langsung mengkonfirmasikan ke agen Batavia air di pekan baru,tetapi tidak ada jawaban yang pasti. menurut saya kepada pihak Batavia air bagasi yang sudah dititipkan berarti itu barang yang berharga bagi penumpang. dengan adanya kejadian ini dimohon kepada pihak Batavia air agar lebih memperhatikan kenyamanan penumpang yang sudah menitipkan bagasinya kepada piuhak Batavia air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Bagaimana bila bagasi hilang atau rusak?

3 Oktober 2011

Nama: Prizeca Dian Annisa

Nim    :224109044

Kelas  : D

Jika kita melihat “perjalanan” bagasi, mungkin kita bisa sedikit memahaminya. Di check-in counter, setelah bagasi diserahkan kepada petugas, maka bagasi akan diberi label (baggage tag), diberi nama yang ditempelkan di koper. Kemudian, bagasi akan berjalan sendiri melalui conveyor-belt menuju ke tempat pemuatan bagasi. Disitu bagasi akan dimasukkan ke dalam container menurut negara tujuan. Apabila melalui negara transit dan harus pindah pesawat, bagasi tersebut harus dipindahkan pula ke pesawat lain untuk menuju ke tujuan terakhir.

Biasanya yang menyebabkan hilangnya bagasi antara lain adalah : Bagasi masih tertinggal di kota keberangkatan, bagasi tertinggal di kota transit, label bagasi terlepas, bagasi tertinggal di pesawat, bagasi tidak sengaja di ambil orang karena merek dan warna yang sama, bagasi masih tertinggal di conveyor-belt, dan atau mungkin sengaja di ambil orang.

Apakah yang harus dilakukan oleh penumpang bila bagasi hilang?

Penumpang harus melapor ke bagian Lost and Found. Nanti petugas disana akan menanyakan cirri-ciri bagasinya, seperti warna, merek, ukuran, tipe, isi, dan cirri-ciri khusus lainnya untuk memudahkan pencarian.

Biasanya petugas akan mengisi formulir PIR (Property Irregularity Report). Dengan data-data dari PIR itu, petugas akan mengirim telex tracing (pencarian), sementara penumpang yang kehilangan koper diminta menunggu hasil tracing, dan akan dikabari secepatnya. Selain bagasi hilang, kemungkinan lain adalah bagasi rusak (damage). Prosedur yang dilakukan adalah sama, yakni penumpang harus lapor petugas Lost & Found. Lalu petugas akan meminta keterangan atau informasi untuk mengisi Report on Damage to Checked Baggage.

Biasanya perusahaan penerbangan yang akan mengganti semua kerusakan ataupun kehilangan tersebut. Tapi kalau masih bisa diperbaiki ya diperbaiki, dan biayanya akan ditanggung oleh perusahaan penerbangan tersebut. Kalau tidak bisa diperbaiki, mungkin akan diganti rugi dengan mempertimbangkan keadaan bagasi tersebut.


Tanggung Jawab Perusahaan Penerbangan

30 September 2011

Nama    : Linawati

Nim       : 224108093 ( S1-MTU )

Tanggung Jawab Perusahaan Penerbangan

     Pada Pasal 43 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang mengatur tanggung jawab hukum perusahaan penerbangan terhadap penumpang dan atau pengirim barang. Biasanya dalam perusahaan penerbangan banyak masalah tentang pengiriman barang, sebelum pengiriman barang tersebut perlunya barang-barang tersebut diperiksa terdahulu.

Prosedur yang harus diperhatikan:

* Alamat pengiriman/penerima

* Jumlah barang

* Periksa berat pengiriman

* Biaya yang dikenakan sesuai dengan jenis barang

      Jika barang tersebut hilang periksa informasi apakah barang tersebut diturunkan atau tidak, lalu hubungi semua kantor di airport di kota yang mungkin menerima barang yang hilang tersebut. Untuk customer yang mengalami kehilangan barang harus selalu menanyakan bagaimana perkembangannya.

Banyak kesalahan dalam penanganan barang:

* Tertinggalnya barang

* Salah label pada barang

* Dokumen yang hilang

      Tanggung jawab perusahaan penerbangan terhadap barang yang hilang adalah maksimum sebesar tarif biaya angkutan per gross kg. Dalam hal tersebut tanggung jawab perusahaan penerbangan tidak lebih dari mengembalikan seluruh biaya yang telah diterima sesuai dalam peraturan yang sudah ada, tanpa terkecuali memberikan bukti pengiriman barang. Yang penting untuk diperhatikan jika barang hilang/rusak/dicuri, harus segera memasukan komplaint tertulis dalam waktu 2 hari kerja sejak tanggal barang diterima, paling lambat dalam waktu 3 hari kerja sejak tanggal dikeluarkan.


Kurangnya Pengawasan Terhadap Alur Barang Penumpang Pada saat kedatangan

29 September 2011

Nama  : Akbar Kharisma Pratama

NIM    :  2241.09.194

Kelas  : S1 MTU D TUGAS I

Kurangnya Pengawasan Terhadap Arus Barang Penumpang Pada saat kedatangan

Terdapat beberapa Bandar Udara Internasional di indonesia yang baik tetapi kurang baik dalam hal pengawasan terhadap barang bawaan passanger , tidak seperti yang di berlakukan di bandar udara internasional di negara lain , di sana pengawasan dilakukan tidak hanya dengan pengawasan oleh petugas ataupun CCTV tetapi barang penumpang yang dirasa berharga akan dipisahkan terlebih dahulu oleh petugas bandara dan di simpan tetapi yang diberlakukan di indonesia tidak sama dengan yang dilakukan oleh negara lain , bahkan di indonesia barang penumpang yang dirasa berharga hanya di pinggirkan tidak di simpan ditempat aman..

hal tersebut saya rasakan di pada saat saya pergi menggunakan pesawat dan membawa barang bawaan yang tidak terlalu besar , pada saat saya ingin mengambil barang bawaan saya , ternyata tas tas saya berada di sudut bagian tempat pengambilan barang , dan tidak hanya saya yang seperti itu , ada beberapa passanger yang seperti itu, dan pada saat ditanyakan kepada petugas ternyata barang tersebut di anggap berharga ..oalaaaaaahhh

( berikut beberapa yang saya kutip dari hukumonline.com )ada beberapa cara untuk menuntut ganti rugi kepada pihak bandara bila merasa dirugikan  , hal tersebut telah di tulis dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara (“Permenhub 77/2011”) memberikan jaminan bahwa pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap:

a.      penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka

b.      hilang atau rusaknya bagasi kabin

c.      hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat

d.      hilang, musnah, atau rusaknya kargo

e.      keterlambatan angkutan udara

f.       kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

Dalam menuntut ganti kerugian, penumpang dan/atau pengirim barang serta pihak ketiga yang mengalami kerugian harus memiliki bukti sebagai berikut (lihat Pasal 21 ayat [1] Permenhub 77/2011):

a.      dokumen terkait yang membuktikan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tiket, bukti bagasi tercatat (claim tag) atau surat muatan udara (airway bill) atau bukti lain yang mendukung dan dapat dipertanggungjawabkan;

b.      surat keterangan dari pihak yang berwenang mengeluarkan bukti telah terjadinya kerugian jiwa dan raga dan/atau harta benda terhadap pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat pengoperasian pesawat udara.

semoga dapat terinspirasi ,,

terima kasih !


%d blogger menyukai ini: