TIPS MEMBAWA ANAK KECIL DALAM PESAWAT

19 Oktober 2011

NAMA :  BAGUS RIZKY PRATOMO

NIM : 224109146

Mengajak Si Kecil Bepergian dengan Pesawat Terbang

Apakah pada libur akhir tahun ini Anda memiliki rencana keluar kota bersama si kecil? Mungkin Anda merasa perlu mengajak anak Anda yang masih kecil, bahkan masih bayi, karena beberapa alasan. Perjalanan akan menjadi menyenangkan karena selalu diisi keceriaan dan celoteh anak-anak yang masih kecil. Meskipun tidak jarang juga mereka menjadi merepotkan orang tuanya dalam perjalanan. Maklum, anak-anak kecil belum mengetahui apa yang harus dilakukan jika sedang dalam perjalanan.

Mungkin akan lebih mudah untuk membujuk si kecil yang rewel jika Anda melakukan perjalanan dengan mobil, karena Anda bisa menepi dan mengalihkan perhatiannya. Namun, bagaimana jika Anda berwisata dengan menggunakan pesawat terbang? Meskipun jika dipertimbangkan bahwa perjalanan udara dengan pesawat terbang menjadi lebih cepat daripada mengendarai mobil, namun berwisata dengan pesawat terbang cenderung butuh persiapan lebih. Berikut tips yang bisa Anda ikuti sebelum berwisata dengan si kecil sebelum bepergian dengan pesawat terbang.

Jika Anda mengajak anak Anda yang masih bayi :

Berikan ia susu saat pesawat mulai menanjak, dan Anda sudah dipersilakan melepas sabuk pengaman. Saat terjadi perubahan ketinggian yang mendadak, biasanya kuping akan terasa tertutup dan tidak nyaman. Menelan adalah cara agar si kecil tidak terlalu menyadari ketidaknyamanan tersebut.

Bawalah popok ekstra, jika memungkinkan, bawa dua kali lipat dari yang Anda butuhkan. Di cuaca seperti belakangan ini, Anda tak pernah tahu kapan pesawat akan mengalami penundaan dan membuat Anda sekeluarga harus menunggu berjam-jam. Jadi, ketika seharusnya perjalanan yang seharusnya cukup 3 jam mundur menjadi 8 jam, Anda sudah ada persiapan (setidaknya dalam hal kebersihan si kecil).

Selalu siapkan pakaian ganti untuk Anda, suami, dan si kecil. Akan ada saja kejadian-kejadian di luar dugaan. Jangan lupa bawa kantung plastik kosong untuk menyimpan “jejak-jejak kecelakaan” tadi. Tisu basah dalam jangkauan juga akan membantu untuk merapikan sisa-sisa kotoran yang tak sengaja terjadi.

Bukan ide yang buruk untuk mengajak si kecil berkeliling pesawat saat keadaan sudah agak stabil di udara untuk mengurangi kegugupannya. Berpindah lokasi dan membawanya jalan-jalan sejenak bisa membantu mengurangi kerewelan si kecil.

Iklan

Salah Siapa ?? Mobil Penarik Pesawat Menabrak Sebuah Pesawat

17 Oktober 2011

Nama     : Fauziah  Maulida

NIM        : 2241.09.149

Kelas      : S1 MTU D

Tugas     :  4

 

Insiden yang berlangsung ketika pesawat tengah melakukan persiapan penerbangan. Ketika tow bar (besi pendorong) sedang dalam proses pemasangan oleh petugas ground handling, mobil penarik itu terus melaju, sehingga menabrak lambung pesawat.

Akibat kejadian itu,roda depan pesawat bernomor registrasi PK-GWO itu berputar 90 derajat. Sedangkan lambung depan pesawat yang berada persis di bawah kokpit robek. Satu petugas ground handling PT Gapura Angkasa yang tengah bertugas terluka akibat terkena serpihan tow bar.

insiden terjadi saat proses boarding pass. Saat pesawat ditabrak,di dalam pesawat baru itu ada seorang pilot, dan enam awak kabin. Sedangkan 111 penumpang yang akan ke Pangkal Pinang tetap terbang sesuai dengan jadwal.Pihak yang mempunyai masalah akan mengganti rugi atas kejadian yang memperlamban waktu penumpang yang akan melakukan berpergian dengan pesawat cadangan lainnya,serta memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Dalam kejadian penabrakan tersebut di perkirakan pihaknya belum menghitung kerugian akibat insiden ini. Maka dari itu pihak yang bersangkutan dalam penanganan kerugian masih fokus terhadap  penanganan pesawat yang ditabrak . Namun kerugian Maskapai Penerbangan tersebut yang paling spesifiknya adalah terganggunya pelayanan penerbangan ke Pangkal Pinang.Itupun harus mengganti pesawat lain dengan pesawat cadangan yang dapat menggantikan pesawat yang terkena tabrakan oleh mobil penarik pesawat.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubung-an langsung melakukan investigasi atas insiden ini. Selama masa investigasi, lisensi pengendara mobil penarik pesawat dicabut sementara.Tidak diperbolehkan dulu menyupir dan SIM bisa ditarik dulu,Hingga pada saat insiden tersebut belum diketahui penyebabnya.Bisa jadi human error atau permasalahan ground handling.


Bangkok, Thailand, telah dianugerahi Asosiasi Transportasi udara Internasional (IATA) Safety Audit Oprasi Ground (ISAGO)

5 Oktober 2011

Nama: Wildani Abidzar

NIM: 224109267

Kelas: S1 MTU-D

Bangkok Penerbangan Service (BFS), setelah berhasil menyelesaikan audit perusahaan dan Stasiun di Bangkok, Thailand, telah dianugerahi Asosiasi Transportasi udara Internasional (IATA) Safety Audit Oprasi Ground (ISAGO). ISAGO adalah program audit standar dan terstruktur Penyedia Ground (GSP) dan BFS adalah dasar pertama dan hanya penyedia layanan ke Thailand untuk memiliki kehormatan yang memenuhi syarat untuk pendaftaran ini. ISAGO, meniru keberhasilan IOSA (IATA Operational Safety Audit), menggunakan standar dasar yang diakui secara internasional dan praktek-praktek operasional yang direkomendasikan. Audit dilakukan oleh auditor sangat terlatih dan berpengalaman. ISAGO juga menyediakan GSP dengan model untuk risiko operasional dan manajemen keselamatan dalam organisasi mereka dan untuk pertama kalinya ada sistem pendaftaran dan berbagi hasil audit.

ISAGO menawarkan manfaat kepada maskapai penerbangan, ground handler, peraturan serta otoritas bandara. Di antara mereka, operasi darat lebih aman, lebih sedikit kecelakaan dan cedera, penghapusan audit berlebihan, mengurangi biaya, kerusakan kurang, proses audit yang seragam dan standar harmonis, pengawasan keamanan membaik, pelatihan auditor harmonis dan kualifikasi, standar kualitas baik, dan pemahaman yang disempurnakan yang tinggi daerah-daerah berisiko dalam operasi darat.


Wowwwww Pesawat ditenagai hanya oleh sel bahan bakar hidrogen

29 September 2011

Nama :  Wildani Abidzar

NIM :  224109267

Kelas :  S1 MTU D

Tanggal 7 Juli 2009 menjadi salah satu hari bersejarah bagi dunia penerbangan, ketika Antares DLR-H2 pesawat terbang dengan pilot tunggal mengudara dari Hamburg Airport, Jerman untuk pertama kalinya. Pesawat itu ditenagai hanya oleh sel bahan bakar hidrogen (hydrogen fiiel cells) yang sama sekali tidak memproduksi karbon dioksida dalam gas buangnya (zero CO2 emissions) kebisingannya sangat rendah. Fiiel cell (sel balian bakar) ditemukan pertama kali oleh Sir William Giwe lebih dari 160 tahun yang lalu antara tahun 1839-1842, tetapi istilah “fuel cell” diperkenalkan oleh Ludvvig Mond and Charles Langer pada 1889. Sementara penggunaan praktisnya dikembangkan oleh Francis Baron Thomas yang melakukan penelitian sejak tahun 1932 yang pada tahun 1959 berhasil mendemonstrasikan mesin las yang ditenagai oleh sel bahan bakar dengan tenaga 5 kw.

Sel bahan bakar adalah suatu perangkat yang menggabungkan hidrogen dan oksigen untuk menghasilkan listrik, panas, dan air. Sel bahan bakar sering kali dibandingkan dengan baterai. Keduanya berfungsi mengonversikan energi yang dihasilkan oleh reaksi kimia yang dapat digunakan menjadi tenaga listrik. Namun, berbeda dengan baterai yang harus diisi ulang (redxarged), sel bahan bakar akan menghasilkan listrik selama bahan bakar (hidrogen) tersedia, tanpa pernah kehilangan daya listriknya. Antares DLR-H2 dikembangkan oleh German Aerospace Center (Deutsches Zentrum fur Luft- und Raumfahrt, DLR) – Institute for Technical Thermodyna-mics (Institut fur Technische Thermody-namik – Stuttgart, Jerman yang bekerja sama dengan Lange Aviation, BASF Fuel Cells dan Serenergy, Denmar. Pesawat itu mempunyai jarak jelajah 750 kilometer (390 nm) dan dapat terbang selama lima jam dengan kecepatan maksimum sekitar 90 knots (170 km/jam).

Antares DLR-H2 yang dibuat dengan basis pesawat layang bermotor (self-launching motorglider) Antares 20E mempumai wingspan (rentang sayap) 20 meter, dibuat oleh Lange Aviation, perusahaan yang bermarkas di Rhineland-Palatinate, Jerman. Untuk dapat membawa sel bahan bakar dan penyedia hidrogen di pesawat terbang, 2 tangki tambahan digantungkan pada sayap yang telah diperkuat. Tangki sebelah kiri untuk sel bahan bakar dan tangki sebelah kanan untuk penyedia hidrogen dengan kapasitas isi 2 atau 4,9 kg.

Karena penambahan beban seratus kilogram untuk kedua tangki tersebut, sifat sifat aeroelastisitas sayap harus dihitung ulang untuk mencegah terjadi ma ketidakstabilan pesawat terbang. Opti-misasi yang dilakukan oleh DLR Institute for Aeroelastiriry (Institut furAero-elastik – Gottingen) menunjukkan Antares DLR-H2 mampu terbang sampai kecepatan 300 km/jam, tetapi sistem penggerak wing digunakan saat ini hanya mampu mendorong sampai kecepatan sekitar 170 km/jam.

Sel bahan bakar yang digunakan untuk memberi tenaga Antares DLR-H2 mempunyai daNtt listrik 25 kw tetapi beroperasi dengan efisiensi 52 persen ketika pesawat terbang mendatar, sekitar 10 kw. Efisiensi total sistem penggerak dari tangki sampai motor elektrik termasuk baling baling sekitar 44 persen yang berarti lebih dari dua kali lipat efisiensi mesin konvensional yang digunakan saat ini yang hanya mempunyai efisiensi sekitar 18-25 persen.

Fitur baru lainnya dari Antares DLR-H2 adalah cara koneksi antara fuel cells dan motor listrik utama”yang memberi . tenaga pesawat terbang. Sistem pengendali motor (motor controller) yang

dikembangkan bersama sama oleh Lange Aviation dan College of Advanced Technology di Beme/Biel ini mampu membangkitkan dan mengendalikan tegangan (voltages) dari 188 sampai 400 volts. Melalui hubungan langsung antara sel bahan bakar dan motor, efisiensi, biaya, keandalan, serta biaya perawatan dapat diminimalkan.

Antares DLR-H2 akan ditempatkan di Lufthansa Technik di Hamburg yang dalam tiga tahun mendatang akan digunakan sebagai wahana uji terbang aktivitas pengujian sel bahan bakar oleh DLR, sebagai bagian dari projek Fuel Cell Labs

Prof. Dr-Ing Johann-Dietrich Worner, Chairman of the Executive Board-DLR mengatakan bahwa DLR sudah mampu meningkatkan kinerja dan efisiensi sel bahan bakar sehingga pesawat mampu mengudara hanya dengan tenaga dari sel bahan bakar hidrogen tersebut, yang sekaligus mendemonstrasikan potensi teknologi/ue/ cells di masa depan. Namun dengan pencapaian teknologi sekarang ini penggunaan sel bahan bakar tampaknya lebih tepat untuk penyedia energi untuk sistem pesawat terbang seperti electrical system atau auxiliary power unit (APU) dan belum untuk pengganti mesin pesawat terbang.

Di dunia penerbangan dan antariksa, penggunaan hydrogen fiiel cells ini telah dilakukan sebelumnya meski hanya untuk memberi tenaga sistem pelistrikan (electrical system) seperti yang digunakan untuk pesawat antariksa dengan produk sampingan berupa air yang dimanfaatkan menjadi air minum kru.

Pada Februari 2008, Airbus berhasil menguji penggunaansel bahan bakar untuk memberi energi sistem tenaga hidrolik dan elektrik cadangan (back-up hydraulic and electric power systems) dan juga mengoperasikan aileron (kendali guling) pesawat riset Airbus A320 ATRA milik DLR dalam suatu uji terbang.

Selama pengujian, sel bahan bakar hidrogen mampu membangkitkan tenaga listrik ebesar 20 kW. Keandalan sistem ini juga terbukti dalam pengujian dengan manuver belok (tum) dengan high gravity dan manuver dengan zero gravity.

Pada Februari dan Maret 2008, Boe-
ing Research Technology Europe (BRTE) di Madrid, Spanyol dengan bantuan dari mitra mitra industri penerbangan yang berasal dari Austria, Perancis, Jerman, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat juga berhasil menerbangkan Boeing Fuel Cell Demonstrator, pesawat berpilot dengan tenaga sel bahan b;ikar hidrogen. Namun berbeda dengan Antares DLR-H2 jang sejak lepas landas hanya ditenagai oleh sel bahan bakar hidrogen. Boeing Fuel Cell Demonstrator lepps landas dengan kombinasi tenaga baterai dan sel bahan bakar.

Boeing Fuel Cell Demonstrator yang berbasiskan pesawat Dimona motorglider dengan dua kursi mempunyai rentang sayap 16,3 meter, dibuat oleh Diamond Aircraft Industries, Austria, dan dimodifikasi oleh BRTE termasuk penggunaan Proton Exchange Membrane (PBM) fiiel cell/lithium-ion battery hybrid system untuk menenagai motor listrik yang terhubung dengan baling-baling konvensional (conventional propeller).

Selama pengujian – yang dilakukan tiga kali di Ocana yang terletak di selatan Madrid, Spanyol – pesawat terbang menanjak sampai ketinggian 1.000 meter di atas muka laut dengan menggunakan kombinasi tenaga baterai dan tenaga dari sel bahan bakar. Setelah mencapai ketinggian jelajah, pesawat terbang hanya dengan tenaga dari sel ba-han bakar hidrogen selama kurang lebih 20 menit dengan kecepatan sekitar 100 km/jam.

Meskipun pemanfaatan sel bahan bakar hidrogen nampaknya menjanjikan bagi dunia penerbangan – dengan zero CO2 emission dan kebisingan yang sangat rendah – tetapi untuk pemakaian sebagai tenaga pendorong pesawat komersial masih menghadapi banyak kendala.

Menurut penelitian di Pennsylvania State University pada tahun 2006 lalu, pesawat komersial besar bertenaga sel bahan bakar hidrogen kemungkinan sudah dapat dibuat pada tahun 2020-an tetapi baru akan dapat melayani penumpang (in-service) sekitar tahun 2040 yang akan datang


%d blogger menyukai ini: